SALATIGA, beritajateng.tv – Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi dan Kewirausahaan (WR RIK) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Prof Eko Sediyono, menyoroti masifnya perkembangan kecerdasan buatan akal imitasi (AI). Terlebih pemanfaatannya untuk dunia pendidikan.
Dia mengatakan, pentingnya membahas bagaimana memanfaatkan AI secara cerdas, kritis, dan bertanggung jawab untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Misalnya, kata dia, bagaimana teknologi AI dapat guru manfaatkan sebagai alat bantu untuk mengembangkan berbagai materi ajar. Selain itu juga untuk mencari inspirasi pembelajaran.
“Termasuk menyusun soal yang sesuai dengan karakteristik peserta didik,” kata Prof Eko Sediyono, dalam kegiatan International Educators Forum 2026, dalam rangka Dies Natalis ke-70 UKSW, di Kota Salatiga, Sabtu, 10 Oktober 2026.
Dia mengatakan, pada era moderen seperti sekarang ini, pendidikan bukan lagi sekadar proses tentang penyampaian informasi maupun soal transfer ilmu pengetahuan.
BACA JUGA: Latihan Bersama Tentara Indonesia dan Australia di Semarang Usai, Tahun 2027 ke Darwin
Akan tetapi, kata Prof Eko Sediyono, juga membentuk karakter, nilai- nilai keagamaan, budaya, sosial, kreativitas, kemampuan berpikir kritis dan soal kemanusiaan.
“Semua itu tidak bisa begitu saja AI gantikan,” katanya.
Lebih lanjut, dia bilang, UKSW terus berupaya memperkuat kolaborasi dengan sekolah- sekolah guna beradaptasi dengan dinamika bidang pendidikan yang terjadi.
Mengangkat tema Artificial Intelligence (AI) Literacy and Future Learning at School, lanjutnya, kegiatan ini diikuti 63 kepala sekolah dan guru SMA/SMK tidak hanya dari Kota Salatiga.
BACA JUGA: Trauma Longsor Besar di Desa Ngrawan, Warga Tolak Eksplorasi Geothermal Gunung Telomoyo
Salah satunya melalui forum International Educators Forum 2026, dalam rangka Dies Natalis ke-70 UKSW tersebut.
Kegiatan ini ikut para kepala sekolah dan para tenaga pendidik dari wilayah Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Boyolali dan daerah lain di sekitarnya.
Forum ini menghadirkan perspektif internasional melalui Dr Abdul Karim dari Hallym University, Korea Selatan, yang membahas Global Perspectives on AI Literacy and Future Learning.
“Dr Abdul Karim memberikan kesempatan bagi peserta untuk melihat perkembangan AI dan pendidikan dari perspektif global. Sekaligus mendiskusikan relevansinya dengan konteks pendidikan di Indonesia,” ucap dia.
Akademisi UKSW, Krismiyati mengatakan, pemanfaatan teknologi AI sangat bisa terintegrasi dalam pembelajaran di kelas melalui penerapan yang lebih praktis.
“Sehingga para guru di sekolah dapat memperoleh inspirasi untuk mengembangkan pembelajaran. Tentu sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhan peserta didik,” katanya.
BACA JUGA: Warga Khawatir Data Center AI di Batang Ganggu Ketersediaan Air, Dinas ESDM Jateng Jelaskan Soal Akuifer
Meski begitu, kata Krismiyati, tetap dibutuhkan kemampuan berpikir kritis ketika menggunakan AI. Jangan menerima begitu saja informasi yang dihasilkan AI.
“Melainkan juga harus memahami, memeriksa dan mempertimbangkannya kembali. Sehingga AI hanya menjadi alat yang membantu kita berpikir dan bukan untuk menggantikan proses berpikir kita,” katanya. (*)
Editor: Diaz A Abidin





