Jateng

Wali Kota Semarang Tanggapi Laka Truk di Silayur yang Berulang, Akibat Kesalahan Tata Ruang

×

Wali Kota Semarang Tanggapi Laka Truk di Silayur yang Berulang, Akibat Kesalahan Tata Ruang

Sebarkan artikel ini
Silayur Truk
Kecelakaan truk tronton rem blong dan menggelimpang di turunan Silayur, Ngaliyan, Kota Semarang, Jumat, 10 April 206 pagi. (Ellya/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Turunan Silayur di Jalan Prof Hamka, Ngaliyan, kembali menjadi sorotan setelah (Laka) kecelakaan lalu lintas melibatkan truk berulang kali terjadi.

Jalur menurun yang menjadi akses penting bagi kendaraan berat dari kawasan industri itu dinilai menyimpan risiko tinggi bagi keselamatan.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, mengakui bahwa persoalan tersebut tidak lepas dari kesalahan perencanaan tata ruang di masa lalu.

Ia menilai kemiringan jalan di kawasan tersebut memang tidak ideal untuk kendaraan bertonase besar.

“Kita harus jujur mengakui tata ruangnya keliru. Kemiringan jalur itu menurut saya tidak layak untuk kendaraan besar dengan tonase berat. Tetapi jalur ini menjadi pintu utama akses kawasan industri di wilayah atas,” ujarnya.

Kondisi ini membuat truk yang melintas di turunan panjang tersebut rawan kehilangan kendali, terutama saat rem tidak berfungsi optimal.

Menurut Agustina, penanganan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah kota karena keterbatasan kewenangan dan anggaran.

BACA JUGA: Insiden Berulang di Silayur, DPRD Kota Semarang Minta Aturan Truk Dievaluasi Total

Ia mengungkapkan bahwa rencana perbaikan fisik berupa rekayasa ulang jalur membutuhkan biaya sekitar Rp60 miliar, angka yang belum mampu di tanggung APBD Kota Semarang saat ini.

“Untuk melakukan perubahan fisik jalan, kebutuhannya sekitar Rp60 miliar. Kami belum sanggup. Karena itu satu-satunya cara adalah memperkuat kolaborasi antara Dinas Perhubungan, kepolisian, dan para pengusaha yang armada truknya melintas di sana,” katanya.

Pemerintah kota juga menilai penertiban kendaraan berat harus di perketat. Koordinasi dengan kepolisian menurutnya menjadi kunci, terutama terkait pengaturan lalu lintas hingga kemungkinan pembatasan jalur.

“Penutupan jalan bukan kewenangan Pemkot. Karena itu harus ada koordinasi lebih lanjut dengan kepolisian. Kesadaran semua pihak sangat kami butuhkan agar kecelakaan tidak terus berulang,” tambahnya. (*)

 

Editor: Elly Amaliyah

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp