SEMARANG, beritajateng.tv – Jalan Brigjen Sudiarto di Kota Semarang masuk prioritas jalan provinsi yang menjadi fokus perbaikan Dinas PU Bina Marga dan Cipta Karya (DPUBINMARCIPKA) Jawa Tengah.
Pasalnya, Jalan Brigjen Sudiarto kerap dikeluhkan warga Semarang lantaran banyaknya lubang yang membahayakan pengendara. Selain itu, jalan di Jepara-Keling turut menjadi prioritas pembenahan.
Hal itu terungkap oleh Kepala DPUBINMARCIPKA Jawa Tengah, Hanung Triyono, saat dijumpai di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang, Selasa, 11 Februari 2025.
Hanung mengaku pihaknya tetap melakukan penambalan rutin di Jalan Brigjen Sudiarto meskipun tambalan itu menurutnya tak bisa awet. Ia membenarkan, rusaknya jalan Brigjen Sudiarto itu akibat hujan dan kendaraan yang overload.
BACA JUGA: Korban Kecelakaan Akibat Jalan Rusak Bisa Tuntut Pemerintah, Ancaman Hukuman Hingga 5 Tahun Bui
“Di [Jalan] Brigjen Sudiarto tetap kami tambal-tambal, meskipun tidak bisa awet ya. Mestinya di situ peningkatan seperti tahun kemarin, kan ada pembetonan. Mudah-mudahan nanti kami usulkan juga untuk ke depan yang lainnya kami beton juga,” ungkap Hanung.
Pihaknya pun tak menampik kerusakan jalan provinsi di Pantura Jawa Tengah akibat aspal yang terendam air hujan. Menurutnya, ruas jalan Jepara-Keling yang paling parah terdampak.
“Iya [hujan berpengaruh]. Banyak titik, pokoknya semua ruas kami cek. [Jalanan] kita paling parah di Jepara-Keling. Kalau daerah itu ada di Wiradesa-Kajen, itu juga Pekalongan. Di Wonogiri juga ada,” ungkapnya.
100 kilometer jalan provinsi di Jawa Tengah rusak, Hanung ungkap ada pengurangan anggaran
Jika ditotal, Hanung mengungkap sepanjang 100 kilometer atau 4 persen jalan provinsi di Jawa Tengah mengalami kerusakan yang tersebar di sejumlah kabupaten/kota.
“Jadi kami hitung penurunan itu dari 91,47 persen kondisi mantap, turun sekitar 4 persen, jadi sekitar 100 km; itu yang mengalami kerusakan secara akumulasi di berbagai tempat,” ungkap Hanung.
Pihaknya pun akan mempertahankan kemantapan jalan provinsi yang membentang sepanjang 2.240,12 kilometer tersebut. Salah satu upaya yang ia lakukan yakni melakukan penambalan jalan rusak di berbagai titik.
Hanung mengaku telah berkordinasi untuk membereskan kerusakan di jalan provinsi. Lantaran kondisi APBN belum cair, kata Hanung, perbaikan jalan provinsi menggunakan dana dari program Corporate Social Responsibility (CSR) dan sumber lainnya.
BACA JUGA: Soal Efisiensi Anggaran, Dewan Minta Penanganan Banjir dan Jalan Rusak di Semarang Tak Berkurang
Adapun pengerjaan itu diupayakan selesai sebelum Idulfitri. Namun, kata Hanung, belakangan terjadi pengurangan anggaran perbaikan jalan yang semula Rp100 juta menjadi Rp30 juta per kilometer.
“Jadi biaya perbaikan ada penurunan dari biasanya. Idealnya itu Rp100 juta per km, terus turun jadi Rp88 juta, itu bisa kami selesaikanlah. Terus sekarang dari 2.240,12 km jalan provinsi, itu jadi Rp224 miliar mestinya. Itu hitungan kasar ya, tapi yang dianggarkan itu Rp127 miliar. Itu kalau bagi per kilometer, jadi sekitar Rp30 juta per km,” lanjut dia.
Ia berharap, pemeliharaan jalan rusak sepanjang 100 km itu tetap bisa tuntas dengan anggaran yang tersedia.
“Jadi kami geser sampai lebaran. Kemarin hitung dari mulai rutin bisa melaksanakan itu sampai anggaran 70 persen dari yang tersedia. Nanti sisanya untuk perubahan anggaran. Mudah-mudahan masih bisa kami lakukan percepatan,” pungkas Hanung. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi




