SEMARANG, beritajateng.tv – Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang, Ade Bhakti Ariawan berbagi tips cara memilih, merawat dan menggunakan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) saat terjadi kebakaran di rumah maupun kantor.
Menurut Ade, edukasi kepada masyarakat sangatlah penting, karena kebakaran justru bermula dari kelalaian yang sebenarnya bisa dicegah sejak dini.
Ade Bhakti menjelaskan bahwa tidak semua APAR memiliki fungsi yang sama. Ia menegaskan bahwa masyarakat perlu mengenali jenis APAR sesuai potensi risiko di lingkungan masing-masing.
“APAR itu ada beberapa tipe. Tipe A untuk bahan seperti kayu dan kertas, tipe B untuk cairan atau bahan bakar, dan tipe C untuk listrik. Jadi harus disesuaikan dengan potensi kebakaran di lokasi,” ujarnya.
Menurutnya, kesalahan dalam memilih jenis APAR dapat mengurangi efektivitas saat terjadi kebakaran. Karena itu, pemetaan risiko menjadi langkah awal yang penting sebelum menentukan alat proteksi.
Ade mencontohkan, kawasan permukiman umumnya lebih membutuhkan APAR tipe A karena didominasi material mudah terbakar seperti kayu dan kain. Sementara area yang dekat dengan genset atau bahan bakar membutuhkan tipe berbeda.
Selain jenis, penempatan APAR juga menjadi faktor krusial. Ia menekankan bahwa alat tersebut harus mudah terlihat dan di jangkau siapa pun.
“APAR tidak boleh tersembunyi. Harus mudah terlihat. Minimal orang tahu lokasinya, sehingga saat terjadi kebakaran bisa langsung kita gunakan atau meminta bantuan,” jelasnya.
Upaya edukasi ini bukan tanpa alasan. Sepanjang tahun lalu, Damkar Kota Semarang telah memberikan pelatihan kepada lebih dari 22 ribu warga serta melakukan inspeksi terhadap lebih dari seribu gedung.
BACA JUGA: Bahaya Kebakaran di SPBU, Damkar Semarang: Respon Cepat Jadi Kunci
“Fokus kami sekarang lebih ke pencegahan. Karena kalau sudah terjadi kebakaran, pasti ada kerugian. Lebih baik kita cegah sejak awal,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya pengecekan rutin APAR agar tetap berfungsi optimal. Pemeriksaan sederhana secara berkala, mulai dari memastikan tekanan tabung stabil, segel tidak rusak, hingga memastikan isi masih layak kita gunakan.
“Minimal sebulan sekali di cek. Kita balik, dengarkan apakah masih ada isi di dalamnya. Tekanan juga harus berada di posisi normal,” tambahnya.
Ade mengungkapkan, penggunaan APAR berstandar nasional atau SNI kini menjadi kewajiban sesuai regulasi terbaru. Standar ini dinilai mampu menjamin kualitas alat sekaligus meningkatkan efektivitas pemadaman.
“Sekarang APAR wajib SNI. Ini sangat membantu kami di lapangan karena kualitasnya lebih terjamin dan aman kita gunakan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak tergiur harga murah tanpa memperhatikan kualitas. Salah satu indikator penting adalah fire rating yang menunjukkan kemampuan APAR dalam memadamkan api.
“Semakin tinggi fire rating, semakin efektif alat itu memadamkan api. Jadi jangan hanya lihat harga, tapi perhatikan spesifikasinya,” ujarnya.
Untuk skala rumah tangga, ia menyarankan alternatif sederhana seperti fire blanket atau bahkan handuk basah sebagai langkah awal penanganan api kecil.
“Kalau di rumah, bisa siapkan fire blanket. Kalau tidak ada, gunakan handuk tebal yang di basahi. Itu bisa membantu memadamkan api kecil,” katanya.
Melalui berbagai upaya ini, Damkar berharap kesadaran masyarakat terhadap bahaya kebakaran semakin meningkat. Partisipasi aktif warga menjadi kunci utama dalam menekan angka kebakaran di Kota Semarang.
“Lebih dari 90 persen kebakaran terjadi karena kelalaian. Jadi kuncinya ada di kesadaran kita semua untuk lebih waspada,” pungkasnya. (*)
Editor: Elly Amaliyah





