Jateng

Waspada! Kasus Leptospirosis di Jateng Naik, 108 Orang Meninggal Akibat “Infeksi Tikus”

×

Waspada! Kasus Leptospirosis di Jateng Naik, 108 Orang Meninggal Akibat “Infeksi Tikus”

Sebarkan artikel ini
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Jawa Tengah, Irma Makiah, saat dijumpai di kantornya. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Jawa Tengah, Irma Makiah, saat dijumpai di kantornya. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

Dinas Kesehatan Jawa Tengah meminta masyarakat yang beraktivitas di area banjir, utamanya terutama relawan, petani, hingga pekerja lapangan,untuk melindungi diri dari paparan air tercemar.

“Kalau pekerjaannya berisiko seperti relawan banjir, jangan sampai lukanya terkontaminasi air. Pakai sepatu boot supaya kalau ada luka dia tidak kena air yang kemungkinan sudah terkontaminasi dengan urin tikus,” katanya.

Irma menambahkan, kelompok paling rentan terinfeksi biasanya mereka yang sering kontak langsung dengan air atau tanah lembap.

“Biasanya yang banyak kena itu petani, yang di perkebunan atau orang-orang yang kerjanya berisiko di tempat-tempat seperti itu,” sambungnya.

Ada 657 kasus dan 108 kematian akibat Leptospirosis sepanjang 2025

Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Jawa Tengah, tercatat 657 kasus leptospirosis dengan 108 kematian sepanjang tahun 2025. Jumlah tersebut meningkat dari tahun 2024 yang mencatat 545 kasus dengan angka kematian sekitar 12 persen.

“Ada 657 tapi ini yang terlaporkan, yang meninggal 108, memang cukup tinggi. Tapi laporan ini belum tentu jelek loh, bisa jadi tahun kemarin cukup tinggi tapi belum semua kasus melaporkan,” tuturnya.

BACA JUGA: Pakar Ingatkan Ancaman Banjir di Puncak Musim Hujan Bulan Januari-Februari: Pantura Paling Rawan

Irma menjelaskan, kenaikan kasus tak lepas dari perbaikan sistem pelaporan berbasis rumah sakit dan penguatan surveilans masyarakat.

“Tahun ini kasus tinggi karena kita minta laporan real time dari rumah sakit. Jadi surveilans kita jalan. Penyakit lepto itu dari dulu sudah ada, cuma sekarang banyak surveilans kita yang jalan,” jelasnya.

Irma menambahkan, curah hujan tinggi dan banjir yang terjadi hampir sepanjang tahun ikut berpengaruh pada meningkatnya sebaran penyakit. Adapun kelompok usia dewasa menjadi yang paling banyak terinfeksi karena lebih sering terlibat langsung dalam aktivitas banjir.