SEMARANG, beritajateng.tv – Di tengah tren wisata edukasi yang terus berkembang, sebuah pengalaman tak biasa hadir di Kota Semarang, belajar beternak sekaligus menggali potensi bisnis dari susu kambing. Bukan sekadar melihat, pengunjung diajak terjun langsung merasakan aktivitas khas peternakan yang selama ini jarang tersentuh masyarakat perkotaan.
Nio Farm di Jalan KH Thohir, Penggaron Kidul, Kecamatan Pedurungan, menjadi salah satu tempat yang menghadirkan konsep tersebut. Di sini, kandang kambing bukan hanya ruang produksi, tetapi juga ruang belajar yang membuka wawasan baru tentang dunia peternakan modern.
Pengalaman unik langsung terasa ketika pengunjung mencoba memerah susu kambing sendiri, aktivitas yang bagi sebagian orang mungkin pertama kali dilakukan. Dari proses sederhana ini, muncul pemahaman bahwa produksi susu kambing bukan hanya soal hasil, tetapi juga ketelatenan dalam perawatan hewan.
Selain praktik langsung, pengunjung juga di ajak memahami alur peternakan dari hulu ke hilir. Mulai dari cara merawat kambing, meracik pakan, hingga menjaga kebersihan kandang yang menjadi kunci kualitas susu.
Antusiasme terlihat saat rombongan wisatawan dari berbagai daerah mengunjungi Nio Farm. Para wisatawan berkunjung bukan sekadar wisata, melainkan upaya mencari peluang usaha baru di sektor susu kambing yang ternilai memiliki prospek cerah.
Pemilik Nio Farm, Hamzah, menyampaikan bahwa pihaknya tidak hanya berfokus pada bisnis susu kambing, tetapi juga memberikan pembekalan bagi masyarakat yang ingin memulai usaha, khususnya di bidang peternakan kambing.
BACA JUGA: Dari Peternakan Imajiner hingga Coding, Terobosan Keren Guru SDN Pendrikan Lor 01 Bikin Siswa Ketagihan Belajar
Hamzah menjelaskan, setiap pengunjung akan mendapatkan pemahaman dasar tentang budidaya kambing yang benar, mulai dari teknis pemeliharaan hingga praktik langsung di lapangan.
“Mulai dari pemeliharaan dan pembuatan pakan, ukuran kandang yang ideal, kebersihan kandang, hingga praktik langsung seperti memerah susu, memotong kuku, dan memandikan kambing. Itu pembekalan dasar yang kami berikan,” ujarnya baru-baru ini.
Tak berhenti pada aspek peternakan, Nio Farm juga menekankan pentingnya nilai tambah produk. Pengunjung dikenalkan pada cara pengemasan yang menarik serta strategi pemasaran agar susu kambing mampu bersaing di pasar.
“Bagaimana cara memasarkan dan mengenalkan produk, hingga membuat produk itu masyarakat sukai dan butuhkan. Karena kalau sudah menjadi kebutuhan, pasti akan di beli. Suka belum tentu beli, tapi kalau butuh pasti beli,” katanya.
Keunikan lain terletak pada jenis kambing yang dikembangkan, yakni Saanen dan Sapera, ras unggulan yang berasal dari Swiss dan India. Keduanya dikenal sebagai penghasil susu berkualitas, sehingga menjadi pilihan utama dalam pengembangan usaha susu kambing.
Di masyarakat, susu kambing juga memiliki citra sebagai minuman bernutrisi dengan berbagai manfaat kesehatan. Mulai dari membantu pengobatan penyakit paru-paru seperti TBC dan asma, hingga berperan dalam menjaga tekanan darah dan kesehatan pencernaan.
Bagi Hamzah, konsep yang Nio Farm bangun bukan sekadar wisata, tetapi juga upaya menciptakan ekosistem belajar yang dapat daerah lain tiru.
Pengalaman tersebut terasa langsung oleh Syuulce, pengunjung asal Jayapura. Ia melihat peluang besar dari usaha susu kambing, terutama di daerahnya yang masih minim pelaku usaha serupa.
BACA JUGA: Tanggapi Polemik Peternakan Babi di Jepara, Abdul Kholik: Hormati Fatwa MUI dan Aspirasi Masyarakat
Ia mengaku tertarik mengadopsi sistem yang Nio Farm terapkan, mulai dari pengelolaan kandang, peningkatan kualitas susu, hingga strategi pemasaran produk olahan.
“Bagus, saya dapat pengalaman bagaimana cara memerah susu kambing. Saya jadi tertarik membuka usaha ini karena di tempat kami belum ada kambing perah,” pungkasnya.
Dengan pendekatan yang menggabungkan edukasi, pengalaman langsung, dan peluang bisnis, Nio Farm menghadirkan wajah baru peternakan kambing, lebih dekat, lebih menarik, dan penuh potensi. (*)
Editor: Farah Nazila





