Hakam memastikan wilayah yang belum mendapatkan program akan menjadi sasaran penyelesaian pada tahun 2026 ini.
“Tahun ini terakhir, nanti beberapa kelurahan ataupun kecamatan yang di dua tahun terakhir ini belum, ini akan kami selesaikan,” ujarnya.
Kondisi tersebut menunjukkan pengendalian DBD tidak cukup hanya mengandalkan satu metode. Pemerintah tetap membutuhkan keterlibatan masyarakat untuk memutus rantai perkembangbiakan nyamuk.
Terlebih, saat ini Kota Semarang memasuki periode kemarau. Kondisi panas justru dapat mempercepat siklus hidup nyamuk dari telur hingga menjadi nyamuk dewasa.
Hakam meminta warga tetap menjalankan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara rutin. Ia bahkan menganjurkan PSN terlaksana tiga kali dalam sepekan.
“Ketika musim panas atau musim kemarau ini, tumbuh kembang nyamuk dari telur jadi jentik kemudian dia terbang, itu lebih cepat,” katanya.
Nyamuk Makin Aktif Saat Panas
Hakam menjelaskan musim kemarau juga dapat membuat aktivitas nyamuk Aedes aegypti meningkat. Kondisi tersebut membuat masyarakat tetap perlu waspada meski angka DBD saat ini sangat rendah.
Menurutnya, warga kerap merasa jumlah nyamuk meningkat ketika cuaca panas. Fenomena tersebut berkaitan dengan lebih panjangnya waktu aktivitas nyamuk.
“Kalau musim hujan, mungkin terbang cuma tiga jam. Begitu musim panas, kerjanya bisa lebih panjang, bisa enam jam,” tuturnya. (*)





