SEMARANG, beritajateng.tv – Sebanyak 1.646 bangku di Sekolah Dasar (SD) Negeri Kota Semarang masih belum terisi meski Dinas Pendidikan telah membuka Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Gelombang II.
Kondisi ini menjadi perhatian DPRD Kota Semarang yang meminta pemerintah segera memetakan penyebab rendahnya jumlah pendaftar di sejumlah sekolah.
Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang, Anang Budi Utomo, mengatakan kekosongan bangku tersebut harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh sebelum pemerintah mengambil langkah lanjutan. Termasuk kemungkinan membuka kembali pendaftaran maupun melakukan penataan sekolah.
“Yang terpenting sekarang adalah inventarisasi dan pemetaan terlebih dahulu. Kita harus mengetahui penyebab mengapa masih banyak kursi kosong. Kalau memang perlu, pemerintah bisa membuka kebijakan lanjutan. Namun jika persoalannya karena jumlah calon siswa memang menurun, tentu harus di evaluasi secara menyeluruh,” ujar Anang.
Menurut dia, sejumlah kawasan permukiman lama di Kota Semarang mengalami perubahan struktur penduduk.
Banyak wilayah yang kini di huni warga lanjut usia sehingga jumlah anak usia sekolah dasar semakin berkurang.
“Kawasan seperti Sekayu atau Pendrikan merupakan kampung lama. Bisa jadi jumlah penduduk usia produktif dan anak-anak memang sudah berkurang. Meski begitu, kita tetap harus melihat apakah nantinya akan terjadi regenerasi penduduk,” kata Anang.
Politikus dari Partai Golkar ini menegaskan evaluasi tidak hanya berfokus pada jumlah siswa, tetapi juga mempertimbangkan kualitas pelayanan pendidikan.
Apabila jumlah peserta didik terus menurun karena faktor demografi, regrouping atau penggabungan sekolah dapat menjadi salah satu alternatif.
BACA JUGA: 1.646 Kursi SD Negeri di Semarang Masih Kosong, Disdik: Belum Ada Rencana Merger Sekolah
“Kalau penyebabnya memang karena jumlah calon siswa sudah berkurang, regrouping bisa jadi pertimbangan. Namun jangan sampai langkah itu justru mengurangi akses layanan pendidikan bagi anak-anak yang masih berada pada usia wajib belajar,” jelasnya.
Ia menambahkan, penyebaran sekolah yang mengalami kekurangan murid juga harus di analisis.
Menurutnya, kondisi sekolah di pusat kota tentu berbeda dengan wilayah yang menjadi kawasan pertumbuhan permukiman baru.





