Jateng

Ada Siswa SMP Belum Bisa Baca, Disdikbudpora Kabupaten Semarang: Metode Pembelajaran Beda

×

Ada Siswa SMP Belum Bisa Baca, Disdikbudpora Kabupaten Semarang: Metode Pembelajaran Beda

Sebarkan artikel ini
Siswa Semarang
Ilustrasi para pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Semarang. (Bowo Pribadi/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Dinas Pendidikan Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Semarang mengakui keterbatasan pendidik bagi siswa inklusi masih menjadi persoalan di daerahnya.

Sejauh ini, jumlah tenaga pendidik yang memang memiliki kuakifikasi khusus untuk mengajar anak atau siswa inklusi di Kabupaten Semarang memang masih sangat terbatas.

Plt kepala dinas terkait, M. Taufiqurrahman, juga menanggapi temuan siswa SMP di Kabupaten Semarang yang belum bisa membaca dan menjadi sorotan DPRD setempat.

Menurut Taufiq, secara aturan SD maupun SMP di Kabupaten Semarang tidak bisa menolak siswa berkebutuhan khusus sebagai murid.

Selanjutnya, di dalam proses pembelajaran, memang terdapat sejumlah siswa inklusi yang secara kemampuan tergolong lambat dalam membaca.

BACA JUGA: Masih Ada Siswa SMP Belum Bisa Baca, Ketua DPRD Kabupaten Semarang Sebut Mutu Pendidikan Turun

Maka yang dinas dan para guru di sekolah lakukan menggunakan metode pembelajaran yang berbeda terhadap mereka.

“Jadi proses pembelajaran tidak menggunakan metode membaca, tetapi perkuat dengan kemampuan mendengarkan,” jelasnya saat beritajateng.tv konfirmasi melalui sambungan telepon, Rabu, 14 Januari 2026.

Selain itu juga menggunakan metode alat peraga, misalnya pada mata pelajaran (mapel) olahraga dan pendidikan agama. Termasuk dengan pembelajaran yang memperbanyak demonstrasi.

Harapannya, para siswa inklusi tetap bisa mengikuti pembelajaran yang sudah ditetapkan sesuai dengan kurikulum. Melalui pengayaan beberapa metode pembelajaran tersebut diharapkan muatan materi kurikulum tersampaikan.

Taurlfiq pun tak membantah keterbatasan tenaga dengan kualifikasi pengajar siswa inklusi. Sebab, pengajar untuk siswa inklusi memang haruslah seorang pengajar khusus.

Pelatihan untuk Guru Agar Mampu Ajar Siswa Inklusi

Pihaknya masih harus melakukan pelatihan kepada para guru agar memiliki kemamouan untuk mengajar siswa inklusi. Pasalnya, yang ada saat ini memang bukan guru khusus, tetapi guru mapel atau guru kelas.

“Sehingga mereka perlu kami berikan pembekalan-pembekalan, khususnya terkait metode-metode untuk mengajar anak berkebutuhan khusus atau siswa inklusi,” lanjutnya.

Terkait hal ini, masih jelas Taufiq, juga juga harus membutuhkan dukungan, baik sumber pendanaannya (APBD), dukungan dari Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), dll.

Namun, pihaknya akan terus berupaya memperkuat kapasitas para pengajar/guru di Kabupaten Semarang. “Tentunya untuk mencari solusi atas persoalan yang masih peserta didik hadapi,” tegasnya.

Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Semarang, Joko Sriyono, juga mengakui dunia pendidikan di Kabupaten Semarang hari ini sedang menghadapi problem keterbatasan jumlah SDM pengajar seiring banyaknya guru yang pensiun.

BACA JUGA: SDN Gemah Semarang Hadirkan Inovasi Kamis Literasi dan Educaplay: Baca Buku-Belajar Interaktif

Sehingga, dalam proses belajar mengajar di sekolah ada guru yang merangkap beberapa mapel, ada kepala sekolah yang merangkap mengajar, sehingga menjadi tidak efektif.

“Di lapangan ada guru olahraga merangkap guru mapel yang berbeda rumpun pendidikannya. Kemudian guru bahasa Inggris yang mestinya ekstra kulikuler merangkap guru kelas,” tuturnya.

Yang menjadi persoalan, kekurangan SDM guru ini sudah dialami di sekolah dasar (SD). Padahal pendidikan di tingkat dasar akan menentukan siswa untuk bisa naik ke jenjang pendidikan berikutnya (menengah).

“Kalau siswa dari dasarnya saja sudah bermasalah, maka di jenjang menengahnya pasti juga akan menghadapi masalah,” kata Joko Sriyono. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp