“Di Indosat, kami percaya bahwa tidak boleh ada satu pun masyarakat Indonesia yang tertinggal di era AI,” kata Vikram.
Ia mengatakan UGM Indosat NVAITC menjadi salah satu cara untuk menghadirkan teknologi dan keahlian AI global ke Indonesia. Akses tersebut juga mengarah pada peneliti, mahasiswa, startup, dan inovator di berbagai daerah.
“Dengan memperkuat kesiapan AI dan memberdayakan talenta lokal, kami berkomitmen untuk mendukung visi pemerintah di bidang AI, serta membantu menempatkan Indonesia tidak hanya sebagai pengguna teknologi AI, melainkan sebagai bangsa yang menciptakan dan menyumbangkan inovasi AI bagi dunia,” ujarnya.
NVIDIA juga melihat potensi besar Indonesia dalam pengembangan AI. Vice President of Solutions Architecture and Engineering NVIDIA Marc Hamilton mengatakan Indonesia memiliki komunitas peneliti, pengembang, dan inovator yang berpotensi mendorong perkembangan teknologi tersebut.
“Indonesia adalah rumah bagi komunitas peneliti, pengembang, dan inovator luar biasa yang berpotensi membentuk masa depan AI,” ujar Marc Hamilton.
Menurutnya, AI memiliki peluang untuk memberikan dampak di berbagai bidang. Sektor kesehatan, pertanian, hingga penanggulangan bencana menjadi contoh bidang yang dapat memanfaatkan teknologi tersebut.
Melalui UGM Indosat NVAITC, NVIDIA berkomitmen membekali talenta Indonesia dengan model terbuka dan keahlian teknologi AI. Tujuannya agar potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi inovasi untuk kebutuhan lokal maupun global.
Riset AI yang pusat teknologi kembangkan akan memanfaatkan kemampuan multidisiplin UGM dan himpunan data lokal. Regenerasi peneliti dan mahasiswa juga menjadi bagian penting dalam pengembangan riset.
Proyek eNose-TB
Pada tahap awal, sejumlah bidang strategis menjadi fokus. Salah satunya kesehatan melalui proyek eNose-TB.
Teknologi tersebut dikembangkan sebagai sistem screening berbasis AI untuk mendukung upaya penanggulangan tuberkulosis di Indonesia. Peneliti UGM berharap dukungan infrastruktur AI dapat mempercepat pengembangan teknologi kesehatan yang lebih terjangkau.
Proyek lainnya adalah SmartAgri. Riset ini memanfaatkan multimodal AI, edge computing, dan teknologi pertanian presisi untuk mendukung produktivitas serta ketahanan pertanian di wilayah beriklim tropis.





