SEMARANG, beritajateng.tv – Aksi mahasiswa yang menuntut institusi Polri atas kematian pelajar MTsN 1 Maluku, Arianto Tawakal (14), berlangsung damai di depan Mapolda Jawa Tengah, Kota Semarang, Kamis, 26 Februari 2026 sore.
Ratusan mahasiswa dari beragam kampus di Kota Semarang seperti Universitas Negeri Semarang (UNNES), Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Islam Sultan Agung (Unisula), UIN Walisongo, Universitas Katolik Soegijapranata (Unika), Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), UDINUS, USM, hingga IKIP Veteran (Ivet) hadir dalam aksi tersebut.
Aksi berlangsung tertib dan perwakilan mahasiswa tiap kampus berorasi sambil menunggu waktu maghrib. Usai maghrib, mahasiswa menyalakan lilin dan melaksanakan salat bersama sebagai bentuk solidaritas.
Meskipun hujan sempat mengguyur wilayah Semarang sore hari, hal itu tidak menyurutkan semangat massa aksi.
Septia Linasari, mahasiswa Fakultas Kedokteran UNNES sekaligus Presiden Mahasiswa BEM UNNES, menegaskan hujan bukan penghalang bagi mereka.
“Hujan tidak berpengaruh, karena tadi teman-teman UNNES sudah kehujanan dari UNNES sebenarnya. Cuma karena memang dari rakyat untuk rakyat juga. Masa demonstran takut hujan? Kan enggak mungkin. Waktu kumpul di UNDIP ke sini hujan, tapi kami tetap terobos,” ujar Septia saat beritajateng.tv jumpai di sela-sela aksi.
Tuntut Transparansi dan Proses Pidana Umum bagi Polisi yang Langgar Hukum
Dalam aksi tersebut, mahasiswa turut menuntut transparansi penanganan kasus-kasus kekerasan yang melibatkan anggota kepolisian, termasuk yang pernah terjadi di Kota Semarang.
Mulai dari kasus penembakan siswa SMKN 4 Semarang, Gamma Rizkynata Oktavandy, hingga tewasnya mahasiswa UNNES, Iko Juliant Junior, usai demonstrasi Agustus 2025 lalu yang hingga kini tak menjumpai titik terang.
“Tuntutan kami itu transparansi penanganan kasus-kasus yang sudah terjadi, seperti di Semarang sendiri itu ada Gamma. Di UNNES punya sendiri Iko Juliant Junor yang sampai sekarang itu kasusnya tidak tahu sampai mana. Transparansinya tidak ada,” kata Septia.
Ia menegaskan, mahasiswa menolak jika polisi yang terlibat pelanggaran hukum hanya mendapat sanksi etik internal.
BACA JUGA: Video Rekonstruksi Tewasnya Mahasiswa Unnes Iko Juliant Bongkar Versi Beda di TKP
“Tuntutan dari teman-teman mahasiswa adalah polisi yang melakukan hal seperti itu bukan hanya beroleh hukuman secara etik dari internal saja, tapi memang tindak pidana umum atau sidang umum. Yang mana nantinya pidananya itu sesuai dengan masyarakat biasa, bukan sebagai polisi,” tegasnya.
Menurutnya, dalam sejumlah kasus sebelumnya, pelaku polisi hanya mendapat sanksi pemecatan tanpa kejelasan proses pidana umum.
“Sejauh ini yang kemarin melakukan pembunuhan itu hanya mendapatkan pemecatan. Belum ada tindak lanjut sidang-sidang yang memang pada akhirnya menjadikan dia dituntut sebagai pelaku seperti masyarakat biasa,” ujarnya.
Secara garis besar, kata Septia, ratusan mahasiswa yang hadir dalam unjuk rasa itu membawa tiga tuntutan utama.
“Jadi tuntutan kami secara garis besar itu yang pertama reformasi Polri, reformasi dari tim reformasi Polri, dan transparansi dari penanganan kasus-kasus pembunuhan yang sudah dilakukan oleh pemerintah,” tutur Septia.
Ratusan Mahasiswa Gelar Aksi Damai dan Simbolik
Septia memperkirakan total massa aksi mencapai 700 hingga 800 mahasiswa. Selain menyuarakan tuntutan, Septia menegaskan aksi tersebut digelar secara damai dan simbolik.
“Kalau dari UNNES itu sekitar 300 lebih, UNDIP 200. Kalau teman-teman yang lain mungkin ada yang sampai 100,” terang Septia.
Dalam kesempatan itu, Septia menegaskan aksi unjuk rasa bersifat simbolik dan damai. Sebab, aksi damai itu juga sekaligus ingin mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap demonstrasi ricuh yang berlangsung pada Agustus 2025 lalu.
“Sebenarnya kami full aksi damai, memang kami hanya untuk menyuarakan saja. Karena tujuan kami selain menyuarakan apa yang jadi keresahan kami, kami juga ingin mengembalikan trust masyarakat,” terang dia.
“Kemarin itu kan sempat terjadi chaos, sempat terjadi hal yang memang tidak diinginkan. Makanya untuk saat ini aksinya memang cenderung aksi simbolik ataupun aksi-aksi yang memang hanya menyampaikan aspirasi saja,” pungkas Septia. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





