SEMARANG, beritajateng.tv – Maraknya berita global seperti konflik AS-Israel vs Iran hingga isu ketidakpastian masa depan kerap memicu kecemasan di kalangan anak muda. Namun, psikolog Dra. Probowatie Tjondronegoro, M.Si menilai generasi saat ini justru memiliki kemampuan lebih baik dalam menyaring informasi, sehingga tidak mudah panik.
Menurut Probowatie, arus informasi yang deras di media sosial memang tidak bisa dihindari. Apalagi, perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) membuat konten semakin sulit dibedakan antara fakta dan manipulasi.
“Berita itu belum tentu benar. Sekarang bisa AI, gambar bisa dimanipulasi macam-macam. Jadi memang harus hati-hati,” ujarnya saat beritajateng.tv konfirmasi pada Sabtu, 11 April 2026.
Probowatie mengakui, rasa cemas akibat paparan berita global memang ada, terutama bagi mereka yang kurang memiliki literasi informasi. Namun, kecemasan tersebut umumnya bersifat sementara dan tidak sampai mengganggu kehidupan sehari-hari.
“Memang ada rasa khawatir, tapi hanya sekilas. Mereka juga merasa itu jauh dari kehidupan mereka, jadi tidak sampai mempengaruhi pola hidup,” jelasnya.
BACA JUGA: Berantas Jual Beli Jabatan, Pemkab Semarang Gandeng KPK dalam Seleksi Perangkat Desa 2026
Ia menambahkan, sebagian besar anak muda justru menjadikan isu-isu global sebagai bahan diskusi, bukan sumber kepanikan.
“Mereka membaca, lalu bahas bersama teman. Jadi lebih ke tukar pikiran, bukan panik,” katanya.
Peran Literasi Digital dan Kontrol Diri
Lebih lanjut, Probowatie menekankan pentingnya kemampuan memilah informasi sebagai kunci utama menghadapi derasnya arus berita.
“Kita tidak bisa menutup informasi. Tapi kita harus bisa membentengi diri, mana yang perlu percaya dan mana yang tidak,” tegasnya.
Ia melihat generasi muda saat ini memiliki kemampuan tersebut, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh berita yang belum terverifikasi.
“Sekarang anak-anak lebih pintar. Mereka baca [berita] saja, tapi tidak langsung dipercaya atau dimaknai berlebihan,” imbuhnya.
Psikolog tersebut juga mengingatkan pentingnya sikap selektif agar tidak mudah terpengaruh oleh berita yang belum tentu valid atau cenderung di lebih-lebihkan.
“Kadang berita itu dari kecil jadi besar. Itu yang harus disadari,” imbuhnya.
Waspadai Efek Echo Chamber
Meski demikian, ia mengingatkan adanya potensi kecemasan jika seseorang terus-menerus terpapar konten serupa, misalnya karena algoritma media sosial.
Jika setiap membuka ponsel selalu muncul berita yang sama, persepsi ancaman bisa terasa lebih besar dari kenyataan.
“Kalau sudah begitu, penting untuk menyaring dan tidak mengonsumsi informasi secara berlebihan,” ujarnya.
Bagi anak muda yang mulai merasakan kecemasan berlebih akibat paparan berita, Probowatie menyarankan untuk tidak memendamnya sendiri.
“Kalau merasa takut, jangan pendam. Ajak ngobrol teman, sharing. Itu bisa membantu meredam,” katanya.
Ia menegaskan bahwa rasa cemas merupakan hal yang wajar, selama masih dalam batas normal dan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari.
“Cemas itu pasti ada. Tapi jangan sampai tidak bisa makan, tidak bisa tidur. Itu yang harus diwaspadai,” ujarnya.
Lebih Berbahaya Konten Negatif Lain
Dalam pandangannya, daripada isu perang global, justru konten negatif seperti pornografi ternilai lebih berdampak langsung terhadap perilaku anak muda.
“Kalau menurut saya yang lebih bahaya itu justru pornografi, karena itu banyak mempengaruhi perilaku,” ungkap Probowatie.
BACA JUGA: Apa Hubungannya Perang Dunia III dengan Dukhan? Begini Penjelasan Nabi Muhammad SAW
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya melihat sisi negatif dari paparan informasi digital, tetapi juga memanfaatkannya sebagai sarana belajar dan memperluas wawasan.
“Jangan dilihat dari sisi negatif saja. Itu juga bisa jadi pengetahuan, asal kita bisa menyaring dan mendiskusikannya dengan baik,” pungkasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





