Gaya Hidup

Anak Muda Cemas Isu Perang dan Masa Depan? Psikolog: Selektif Informasi Jadi Kunci

×

Anak Muda Cemas Isu Perang dan Masa Depan? Psikolog: Selektif Informasi Jadi Kunci

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi sosial media. (Pexels/Pixabay)
Ilustrasi media sosial. (Foto: Pexels/Pixabay)

SEMARANG, beritajateng.tv – Maraknya berita global seperti konflik AS-Israel vs Iran hingga isu ketidakpastian masa depan kerap memicu kecemasan di kalangan anak muda. Namun, psikolog Dra. Probowatie Tjondronegoro, M.Si menilai generasi saat ini justru memiliki kemampuan lebih baik dalam menyaring informasi, sehingga tidak mudah panik.

Menurut Probowatie, arus informasi yang deras di media sosial memang tidak bisa dihindari. Apalagi, perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) membuat konten semakin sulit dibedakan antara fakta dan manipulasi.

“Berita itu belum tentu benar. Sekarang bisa AI, gambar bisa dimanipulasi macam-macam. Jadi memang harus hati-hati,” ujarnya saat beritajateng.tv konfirmasi pada Sabtu, 11 April 2026.

Probowatie mengakui, rasa cemas akibat paparan berita global memang ada, terutama bagi mereka yang kurang memiliki literasi informasi. Namun, kecemasan tersebut umumnya bersifat sementara dan tidak sampai mengganggu kehidupan sehari-hari.

“Memang ada rasa khawatir, tapi hanya sekilas. Mereka juga merasa itu jauh dari kehidupan mereka, jadi tidak sampai mempengaruhi pola hidup,” jelasnya.

BACA JUGA: Berantas Jual Beli Jabatan, Pemkab Semarang Gandeng KPK dalam Seleksi Perangkat Desa 2026

Ia menambahkan, sebagian besar anak muda justru menjadikan isu-isu global sebagai bahan diskusi, bukan sumber kepanikan.

“Mereka membaca, lalu bahas bersama teman. Jadi lebih ke tukar pikiran, bukan panik,” katanya.

Peran Literasi Digital dan Kontrol Diri

Lebih lanjut, Probowatie menekankan pentingnya kemampuan memilah informasi sebagai kunci utama menghadapi derasnya arus berita.

“Kita tidak bisa menutup informasi. Tapi kita harus bisa membentengi diri, mana yang perlu percaya dan mana yang tidak,” tegasnya.

Ia melihat generasi muda saat ini memiliki kemampuan tersebut, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh berita yang belum terverifikasi.

“Sekarang anak-anak lebih pintar. Mereka baca [berita] saja, tapi tidak langsung dipercaya atau dimaknai berlebihan,” imbuhnya.

Psikolog tersebut juga mengingatkan pentingnya sikap selektif agar tidak mudah terpengaruh oleh berita yang belum tentu valid atau cenderung di lebih-lebihkan.