Catatan Editor

Anora, Lebih dari Sekedar Ani-ani Terperangkap Rayuan Anak Oligarki Ingusan

×

Anora, Lebih dari Sekedar Ani-ani Terperangkap Rayuan Anak Oligarki Ingusan

Sebarkan artikel ini
farah nazila
Farah Nazila. (Dokumen Pribadi)

Anora tahu Vanya adalah anak dari seorang oligarki yang datang dari uang, ia paham Vanya lebih muda darinya. Namun, ia tetap ingin mempercayai bahwa ia bisa bahagia, bisa mengubah ilusi seks dan uang sebagai kisah Cinderella yang nyata.

Di balik megahnya dongeng modern itu

Film Anora, sedikitnya memiliki pandangan tentang dongeng Cinderella yang berakhir bahagia, ambil saja contoh film Pretty Woman (1990) yang menghadirkan Richard Gere dan Julia Roberts. Dalam film itu, Roberts memerankan seorang pelacur bernama Vivian Ward. Ketika ia jatuh cinta, ia ingin dongeng yang selalu ia dambakan, terjadi.

Sama halnya seperti Anora, Cinderella modern secara tak terduga mendapatkan tiket emas menuju kehidipan baru melalui Vanya. Keduanya lalu menikah di Las Vegas. Kedua orang tua oligarki yang tak bahagia dengan kabar tersebut pun, terbang dari Rusia ke Amerika untuk ‘menyelamatkan’ putranya. Mengetahui orang tuanya dalam perjalanan ke Amerika, Vanya tak bisa menutupi rasa paniknya, bahkan di depan wanita yang berada di bawah tanggung jawabnya, Ani. Tanpa ragu, ia pun kabur dari pandangan Ani seolah tak ada yang terjadi di antara mereka. Di sinilah, penonton diperlihatkan emosi-emosi yang raw namun sangat mendalam dari Ani.

BACA JUGA: Sudah Jatuh Tertimpa Suporter

Di samping Pretty Woman dan segala dambaan dongeng dari Vivian, di sini Sean Baker membuatnya sangat serius, realistis dengan penanganan yang mengejutkan; di tiga babak awal film, ia menampilkan adegan seks eksplisit dari gadis-gadis klub, kemudian adegan pertemuan dengan klien muda dari Rusia.

Singkatnya, dunia ini sudah buruk. Bahkan, Pulau Coney saja tidak bisa menyelamatkan kisah cinta Ani dan Vanya, meski keduanya sudah melewati momen-momen romantis yang mungkin menjadi dambaan banyak orang. Kata-kata Vanya ‘Kita akan baik-baik saja meski aku tak punya uang,” itu pun juga tak cukup untuk melawan realita kehidupan yang sudah pahit.