Sementara itu, ada sebagian Kopdes Merah Putih yang baru terbentuk. Mereka hanya memiliki struktur pengurus kurang dari 10 orang dan belum memiliki anggota.
Lalu, iuran simpanan pokok dan wajib setiap orangnya hanya sekitar Rp100 ribu, sehingga modalnya hanya berkisar Rp1 juta.
Menanggapi itu, Bram menyebut setiap Kopdes Merah Putih memang memiliki modal yang berbeda-beda.
“Modalnya dari simpanan pokok dan simpanan wajib, masing-masing koperasi bisa sama, bisa beda. Tergantung jumlah [iuran] anggota yang koperasi input setiap bulan ya,” ucap Bram
Yakini Koperasi Merah Putih bisa berjalan jika punya perencanaan matang
Minimnya modal dan pembekalan pengelolaan koperasi dinilai menjadi penghambat bagi pengurus dalam menjalankan Kopdes Merah Putih. Menurut Bram, penting bagi Kopdes Merah Putih yang memiliki modal kecil untuk menggandeng BUMN maupun BUMD untuk bekerja sama.
“Kalau memang koperasi ini modalnya masih kecil, makanya yang saya sampaikan tadi, kami sudah menginisiasi kontak bisnis [dengan BUMN dan BUMD],” terangnya.
Dalam hematnya, dengan perencanaan bisnis yang matang, pengurus Kopdes Merah Putih dapat meraup keuntungan. Utamanya bila koperasi tersebut mampu menyediakan kebutuhan pokok masyarakat.
“Kita rencanakan dulu bussiness plan-nya, kemudian sebulan akan bisa berputar usahanya, baru mengajukan ke perbankan. Bisa ke masyarakat ya, bisa konsinyasi dengan pedagang beras [yang menjadi anggota Kopdes Merah Putih],” pungkasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





