Ligwina menyoroti penggunaan emas dalam rencana keuangan. Ia menilai emas kurang cocok untuk kebutuhan sangat dekat. Fluktuasi harga emas bisa mencapai sepuluh persen dalam waktu singkat. Kondisi itu berpotensi memicu kepanikan jika dana segera terpakai.
“Jadi justru emas itu sebaiknya tidak dilakukan untuk jangka terlalu pendek. Karena kalau dia turun dalam 2 minggu, 10 persen, lu mau apa?” tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa tujuan finansial menentukan reaksi seseorang terhadap risiko. Seseorang akan lebih tenang jika dana hanya sebagai cadangan. Sebaliknya, kecemasan meningkat ketika dana memiliki tenggat jelas. Oleh sebab itu, jangka waktu investasi harus selaras dengan produk yang dipilih.
Raditya Dika turut menanyakan skenario perubahan rencana. Ia menggambarkan kondisi saat target awal lima tahun berubah menjadi tiga tahun. Dalam situasi tersebut, instrumen emas masih menyimpan risiko besar. Ligwina menyarankan evaluasi segera terhadap portofolio.
Pentingnya Menyesuaikan Jangka Waktu Investasi
Ligwina menekankan revisi rencana keuangan perlu dilakukan berkala. Waktu yang terus berjalan otomatis menggeser profil risiko. Instrumen yang dulu relevan bisa menjadi kurang tepat. Karena itu, investor harus aktif meninjau strategi.
Ia memberi contoh ketika nilai emas sudah naik signifikan. Kondisi tersebut dapat menjadi momentum realisasi keuntungan. Risiko penurunan harga tetap ada meski tren sempat positif. Sisa waktu tiga tahun membuat ruang pemulihan semakin sempit.
BACA JUGA: Bank Jateng Perkuat Literasi Keuangan Pelajar dengan Sosialisasi Tabungan SimPel
Pandangan tersebut menegaskan pentingnya disiplin dalam financial planning. Perencanaan bukan dokumen statis tanpa perubahan. Setiap perkembangan hidup menuntut penyesuaian strategi. Dengan memahami jangka waktu Investasi, masyarakat dapat mengelola risiko lebih bijak. (*)





