SEMARANG, beritajateng.tv – Rektor Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Prof. Suharnomo, mengungkapkan pentingnya digital campus. Menurutnya, kemajuan tekonologi ikut menuntut para perguruan tinggi untuk mau tidak mau beradaptasi dengan hal itu.
“Sosial media luar biasa, kita sekarang hidup di era kalau tidak bisa adaptasi akan tertinggal, karena begitu luar biasanya media sosial,” ujarnya saat menjadi pembicara dalam diskusi civitas academica bertema “Mewujudkan Tata Kelola yang Baik di Universitas Semarang“, Jumat, 30 Agustus 2024.
Suharnomo menuturkan, pengaplikasian teknologi di dalam kampus kini menjadi sangat penting. Jika perguruan tinggi tidak sadar akan digital campus, maka merea bakal tertinggal satu langkah di belakang.
BACA JUGA: Kasus Kematian Dokter Undip, Kemenkes: Sudah Sakit Saat Awal PPDS
“Kalau kita mau survive, sustain, ya digital campus, untuk segala praktik. Minimal mulai dari masalah administratif,” sambungnya.
Begitu pula soal kemajuan media sosial, ia menyebut citra perguruan tinggi yang baik dapat terbentuk dari media sosial.
Ia mencontohkan, pada saat Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Undip beberapa waktu yang lalu, dirinya viral. Padahal, saat itu ia hanya melakukan hal-hal sederhana yang khas di media sosial.
“Saya cuma bilang ‘Jangan ya, Dek, ya’, itu viral, viewers-nya 30 juta, yang nge-like 3 juta. Sosial media luar biasa, ratusan ribu komen yang bilang ingin kuliah di Undip tahun depan,” bebernya.
Anomali digital campus
Kendati demikian, Suharnomo mengakui jika hal-hal negatif akan mudah viral di media sosial. Misalnya, saat kasus meninggalnya mahasiswi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi Undip yang juga dokter residen, dr. Aulia Risma Lestari.
Ia menyebut, citra Undip di media sosial saat ini berada di posisi rendah. Meski begitu, hal tersebut merupakan anomali kemajuan digital, di mana berita bagus cepat menyebar, begitu pula berita buruk.
“Pas PKKMB banyak yang bilang pengin Undip, tapi sekarang ada juga yang bilang ‘jangan masuk Undip, banyak bullying,” ucap Suharnomo.
BACA JUGA: Dorong Mahasiswa PPDS Speak Up, Keluarga: Jangan Biarkan Kematian dr. Aulia Sia-sia
Pada kasus tersebut, lanjut Suharnomo, framing almarhum meninggal karena menjadi korban bullying sangat kuat tersebar di media sosial. Padahal, pihaknya telah bekerja sama dengan berbagai pihak yang terlibat.
“Kami ngatasi tuduhan bullying enggak cukup mampu. Yang kena PPDS Undip, orang bilang, ‘Jangan sembunyiin, usut.’ Lha, kami bingung yang disembunyiin apanya, siapanya,” tuturnya.
Meski begitu, Suharnomo menganggap hal tersebut sebagai lika-liku yang terjadi di media sosial.
“Up and down harus di-mantain, kalau kita enggak siap di dunia digital, kayaknya berat survive,“ tandasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





