SEMARANG, beritajateng.tv – Beredar informasi keracunan pangan dugaannya akibat Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa sejumlah siswa SMKN 11 Semarang.
Informasi dugaan keracunan pangan tersebut beredar melalui pesan berantai WhatsApp dan berkaitan dengan program MBG.
Merespons informasi itu, Dinas Kesehatan Jawa Tengah mengaku belum mendapat informasi itu dari Dinas Kesehatan Kota Semarang maupun pihak sekolah.
“Iya, belum [dapat laporan],” jawab Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Yunita Dyah Suminar, saat beritajateng.tv jumpai langsung di Kota Semarang, Jumat, 9 Januari 2026.
Jateng Masuk 5 Provinsi dengan Kasus Keracunan MBG Terbanyak Tahun 2025, Yunita Singgung Cara Penyimpanan Bahan dan Distribusi
Adapun keracunan MBG bukan kali pertama terjadi di Jawa Tengah. Berdasarkan data LSM Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Jawa Tengah masuk 5 besar provinsi dengan korban terbanyak, dengan total 1.666 korban hingga 12 Oktober 2025.
Ia menjelaskan, kasus keracunan massal yang dikaitkan dengan program MBG umumnya dipicu persoalan waktu pengolahan hingga distribusi makanan, serta kualitas bahan pangan.
“Biasanya itu jamnya. Jam masak sampai penghantarannya, sama bahan makanannya,” ujar Yunita.
Menurutnya, kasus keracunan MBG yang terjadi belakangan tidak sebesar kejadian sebelumnya. Jumlah korban umumnya berkisar belasan orang, tidak sampai ratusan seperti pada kasus-kasus awal program.
“Sekarang biasanya 15 sampai 20 orang. Artinya mungkin dari sekian banyak porsi, ada sebagian yang bermasalah. Misalnya terlalu lama,” katanya.
BACA JUGA: Imbas Dugaan Keracunan MBG, Bupati Semarang: Syarat Wajib SPPG Uji Lab Air hingga SLHS
Yunita menegaskan, pihaknya belum dapat memastikan apakah pola tersebut juga terjadi pada dugaan kasus di SMKN 11 Semarang, karena hingga saat ini belum ada laporan resmi yang masuk.
“Tapi yang SMKN 11 ini saya belum lihat. Belum ada laporan,” tegasnya.
Ia menambahkan, salah satu persoalan yang kerap ditemukan adalah penyimpanan bahan makanan yang tidak sesuai standar.





