SALATIGA, beritajateng.tv – Sedikitnya 1.100 mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) memadati Balairung UKSW, Kota Salatiga, untuk mengikuti kuliah tamu bertajuk “Merawat Kebhinekaan dan Menjaga Persatuan”, Kamis, 1 Oktober 2026.
Kegiatan strategis ini merupakan hasil kolaborasi antara Mabes Polri dengan empat unsur di internal UKSW, yakni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Komunikasi (Fiskom), Fakultas Hukum, Fakultas Psikologi, serta Pusat Studi Kepolisian UKSW.
Kuliah tamu ini ԁigelar khusus untuk memperkuat pemahaman generasi muda dalam merawat nilai-nilai kebhinekaan di tengah ancaman era digital.
Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) Pusat Studi Terorisme, Komjen Pol (Purn) Prof. H. Mohammed Rycko Amelza Dahniel, hadir sebagai pembicara utama.
Dalam paparannya, ia mengingatkan para mahasiswa bahwa ancaman terorisme saat ini telah bergeser dari metode konvensional ke ruang digital.
BACA JUGA: Mahasiswa UKSW Ciptakan Dekomposer Contraflow, Solusi Olah Sampah Organik Rumahan Pakai Maggot
Menurut Rycko, kelompok radikal kini secara aktif menyebarkan propaganda melalui internet dengan menyasar anak muda yang memiliki mobilitas digital tinggi dan sisi emosional yang rentan ԁipengaruhi.
“Melalui kuliah umum ini, kami ingin membekali mahasiswa dengan kemampuan berpikir kritis. Agar mereka tidak mudah terdoktrin oleh hoaks, propaganda, maupun paham radikal secara online,” ujar mantan Kapolda Jawa Tengah tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Rycko juga menguraikan dua pilar utama dalam nilai-nilai universal demokrasi, yakni freedom (kebebasan) dan rule of law (negara hukum).
Kedua pilar ini, kata dia, memiliki peran berbeda namun saling melengkapi untuk membangun masyarakat yang demokratis dan beradab.
“Freedom berkaitan dengan kebebasan beraspirasi. Tentu pelaksanaannya harus ԁisesuaikan dengan rule of law, yakni aturan hukum yang berlaku di Indonesia,” tegasnya.
Kata Para Dekan UKSW di Kuliah Tamu Bersama Mabes Polri
Sementara itu, Dekan Fiskom UKSW, Sri Suwartiningsih, M.Si., menegaskan pentingnya menggelorakan semangat persatuan di tengah keberagaman dan tantangan global saat ini.
Ia menyebutkan bahwa ancaman terorisme kini bersifat laten dan tidak lagi tampak terang-terangan di ruang publik, sehingga siapa saja, bahkan anak-anak,berpotensi terpapar.
Bagi mahasiswa Fiskom yang lekat dengan ilmu sosial, pemahaman ini menjadi krusial agar mereka peka terhadap berbagai ancaman, baik dari luar maupun dari dalam negeri.
BACA JUGA: UKSW Buka Peluang Perkuliahan Lintas Negara dengan Timor Leste, Kelas Digelar Online
“Ketika mahasiswa sudah mengenali bahaya ini, mereka memiliki sudut pandang yang kritis. Secara tidak langsung, mereka turut serta menyelamatkan bangsa Indonesia,” jelas Sri.
Senada dengan hal tersebut, Dekan Fakultas Hukum sekaligus Ketua Pusat Studi Kepolisian UKSW, Prof. Dr. Christina, S.H., M.Hum., mengingatkan bahwa menjaga kebhinekaan bukan sekadar tugas aparat kepolisian, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat, termasuk mahasiswa sebagai penerus bangsa.
“Penegakan hukum tidak hanya berfokus pada tindakan represif. Selain itu juga perlu ԁilakukan secara preventif melalui peningkatan kesadaran hukum di tengah masyarakat,” pungkas Christina. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





