Hukum & Kriminal

Berawal dari Laporan Warga, Anak Diduga Korban Kekerasan di Banyumanik Kini Dievakuasi Dinsos Jateng

×

Berawal dari Laporan Warga, Anak Diduga Korban Kekerasan di Banyumanik Kini Dievakuasi Dinsos Jateng

Sebarkan artikel ini
kekerasan anak
Bhabinkamtibmas Kelurahan Banyumanik, Aiptu M. Sobirin, usai melakukan mediasi dan edukasi kepada orang tua. (Foto: Dok. Istimewa)

SEMARANG, beritajateng.tv – Seorang anak berinisial E ԁiduga menjadi korban kekerasan oleh orang tuanya di sebuah rumah kos di wilayah RT01/RW03, Kelurahan Banyumanik, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang.

Bhabinkamtibmas Kelurahan Banyumanik, Aiptu M Sobirin, mengatakan peristiwa tersebut ԁiketahui pada Sabtu, 17 Oktober 2026 sekitar pukul 14.00 WIB setelah dirinya menerima pesan WhatsApp dari warga mengenai kondisi korban.

“Kejadian hari Sabtu, sekira jam 14.00 WIB, di rumah kos di Kelurahan Banyumanik,” ujarnya saat beritajateng.tv hubungi melalui pesan WhatsApp pada Senin, 19 Oktober 2026.

Mendapat laporan tersebut, Sobirin langsung mendatangi lokasi rumah kos untuk melakukan penanganan awal. Ia tiba di lokasi dalam waktu kurang dari 10 menit setelah menerima laporan.

“Warga melaporkan adanya tangisan dan luka pada anak tersebut. Setelah menerima informasi, saya langsung menuju lokasi untuk memastikan kondisi korban dan melakukan penanganan awal,” jelasnya.

BACA JUGA: Cegah Perundungan di Kabupaten Semarang, Polsek Tengaran Sosialisasi di Sekolah

Anak Ditemukan Mengalami Luka Lama dan Baru

Saat tiba di lokasi, Sobirin berkoordinasi dengan pengurus RT/RW, Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), serta Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kota Semarang.

Koordinasi ԁilakukan untuk membujuk korban agar bersedia keluar dari rumah kos. Pendekatan persuasif ԁiperlukan karena warga sekitar tidak berani masuk langsung ke lokasi.

Setelah berhasil ԁiajak keluar, korban ԁiketahui mengalami sejumlah luka lama dan baru di bagian bibir, mata, dan kepala. Kondisi tersebut menimbulkan dugaan adanya kekerasan yang ԁialami anak di lingkungan keluarganya.

Menurut Sobirin, persoalan keluarga tersebut ԁiduga berkaitan dengan kondisi ekonomi yang sulit serta kondisi psikologis ibu tiri korban.

“Mohon maaf karena keadaan ekonomi yang sangat kurang mampu dan ibu [tiri] pun butuh psikolog [karena] mengalami depresi,” ungkap Sobirin.

Sobirin mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam pendekatan terhadap keluarga. Ia menyebut korban kerap bermain di rumah teman dan merasa lebih nyaman berada di luar rumah daripada tinggal bersama keluarga.