SEMARANG, beritajateng.tv – Perayaan Trisuci Waisak 2570 BE / 2026 tidak hanya menjadi momentum refleksi bagi umat Buddha, tetapi juga pengingat pentingnya menjaga perdamaian di tengah berbagai persoalan yang masih terjadi di dunia.
Di tengah konflik global yang masih berlangsung serta tantangan ekonomi yang masyarakat Indonesia hadapi saat ini, pesan perdamaian dan pengendalian ԁiri mengemuka dalam peringatan Waisak 2026
Kepala Vihara Tanah Putih Semarang, Bhante Cattamano Mahathera, menilai setiap perubahan yang terjadi dalam kehidupan perlu ԁisikapi dengan cara pandang yang benar.
Menurutnya, harapan akan perubahan yang lebih baik harus berawal dari kemampuan manusia mengelola pikiran dan batinnya sendiri.
BACA JUGA: Umat Buddha Rayakan Waisak di Vihara Tanah Putih Semarang, Penghayatan Dhamma Sebulan Penuh
“Yang kita harapkan adalah perubahan yang baik. Perubahan yang baik itu harus kita awali di mana kita punya pikiran yang baik,” ujar Bhante Cattamano usai perayaan Waisak di Vihara Tanah Putih, Kota Semarang, Minggu, 31 Mei 2026.
Bhante Cattamano menjelaskan, pikiran yang baik tidak hanya sekadar berpikir positif, namun juga terbebas dari berbagai sifat yang dapat memicu konflik maupun penderitaan bagi ԁiri sendiri dan orang lain.
“Pikiran yang baik seperti apa? Pikiran yang terbebas dari kebencian, pikiran yang terbebas dari iri hati, pikiran yang terbebas dari keserakahan, pikiran yang terbebas dari kesombongan, pikiran yang bebas dari kegelapan batin,” lanjutnya.
Bhante Cattamano: Perdamaian Dunia Tidak Cukup Lewat Doa
Menanggapi konflik dan ketegangan global yang masih terjadi dan berimbas di Indonesia, Bhante Cattamano menilai perdamaian tidak cukup hanya ԁiwujudkan melalui doa yang terucap dalam ritual keagamaan.
Menurutnya, setiap orang dapat menghadirkan doa dalam bentuk yang lebih nyata melalui perilaku sehari-hari, baik lewat pikiran, ucapan, maupun tindakan terhadap sesama.





