SEMARANG, beritajateng.tv — Sejumlah video tanah longsor susulan di Dusun Bandungan, Desa Kalongan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, viral di media sosial dalam sepekan terakhir. Rekaman tersebut memperlihatkan pergerakan tanah yang masih berlangsung dan ternilai mengancam permukiman warga di sekitar lokasi.
Kondisi ini terpicu oleh intensitas hujan yang tinggi dan merata di sebagian besar wilayah Kabupaten Semarang dalam beberapa pekan terakhir. Dalam sejumlah video, disebutkan bahwa mahkota longsor atau bibir jurang kini hanya berjarak kurang dari 30 meter dari rumah warga. Selain itu, retakan tanah juga semakin banyak di lahan kosong sekitar permukiman.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Semarang, Alexander Gunawan Tribiantoro, memastikan pihaknya telah melakukan langkah mitigasi di lokasi kejadian.
“Di sekitar lokasi longsor sudah terpasang alat early warning system (EWS) atau deteksi dini pergerakan tanah,” ujar Alexander di Ungaran, Senin, 23 Februari 2026.
BACA JUGA: Imbas Hujan Deras, Banjir Luapan dan Tanah Longsor Kembali Terjang Wilayah Ungaran Barat-Timur
Berdasarkan hasil pengecekan lapangan dan asesmen awal, terdapat sedikitnya 15 bangunan rumah warga yang berada di dekat mahkota longsor dan berpotensi terdampak jika pergerakan tanah terus berlanjut.
Alexander menjelaskan, berdasarkan kajian teknis yang sebelumnya Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah lakukan, struktur tanah di wilayah Kalongan memang tergolong labil. Hal itu karena adanya aliran sungai serta aliran air di bawah permukaan tanah, sehingga memicu pergerakan tanah yang masih aktif.
“Secara teknis, memang masih terjadi pergerakan tanah di lokasi tersebut,” jelasnya.
Terkait langkah penanganan lanjutan, BPBD Kabupaten Semarang telah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) serta instansi terkait di Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Saat ini, telah di siapkan 15 skenario penanganan dan pengamanan untuk mengantisipasi dampak longsor susulan.
“Salah satu skenario yang di siapkan adalah opsi relokasi warga yang rumahnya berada di zona rawan,” tegas Alexander.
BACA JUGA: Korban Tanah Longsor Pekalongan Bertambah, 23 Orang Meninggal Dunia
Selain itu, BPBD Kabupaten Semarang juga mencatat tingginya kejadian bencana hidrometeorologi sepanjang Januari hingga Februari 2026. Dalam periode tersebut, tercatat sekitar 60 kejadian tanah longsor di berbagai wilayah.
“Selain longsor, kami juga mencatat sembilan kejadian banjir, 25 kejadian angin ribut, serta tujuh kejadian bencana nonalam,” pungkasnya. (*)
Editor: Farah Nazila
Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.
Gabung Channel WhatsApp





