SEMARANG, beritajateng.tv — BPBD Kabupaten Semarang memastikan pergerakan tanah di Dusun Bandungan, Desa Kalongan, masih berlangsung hingga akhir Februari 2026. Berdasarkan asesmen terbaru, sebanyak 22 kepala keluarga (KK) kini masuk dalam zona rawan dan berpotensi terdampak longsor.
Asesmen dilakukan menyusul peristiwa longsor yang sebelumnya memutus akses jalan penghubung Ungaran–Mranggen. BPBD mengimbau warga yang berada di zona rawan untuk tetap meningkatkan kewaspadaan karena fenomena geologi di lokasi belum berhenti.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Semarang, Alexander Gunawan Tribiantoro, mengatakan pendataan dilakukan bersama perangkat desa setempat.
“Untuk permukiman di sisi selatan jalan yang terputus, terdapat 22 KK yang cukup rawan atau berpotensi terdampak. Pergerakan tanah hingga saat ini masih berlangsung,” jelasnya, Sabtu, 28 Februari 2026.
BACA JUGA: Sidak Bencana di Ungaran, DPRD Kabupaten Semarang Desak Pemkab Tuntaskan Banjir dan Longsor
Alexander menerangkan, berdasarkan kajian teknis Dinas Pekerjaan Umum (DPU), di bawah permukaan tanah terdapat cekungan sumber air. Ketika tanah di atasnya jenuh air, massa tanah akan bergerak mencari bidang yang lebih rendah.
“Proses ini memicu pergerakan tanah yang menyebabkan longsor di beberapa titik dan membentuk jurang yang semakin lebar serta dalam,” ujarnya.
Ia menambahkan, sejak awal kejadian yang memutus jalan Ungaran–Mranggen hingga sekarang, luas kawasan terdampak meningkat sekitar 30–40 persen. Saat ini, bentang longsoran mencapai sekitar 250 meter dengan kedalaman hingga 62 meter.
“Estimasi luas dalam hektare masih dihitung. Namun, jangkauan dampak pergerakan tanah telah mencapai sekitar 1,5 kilometer dari titik awal,” tegasnya.
Sementara itu, warga Dusun Bandungan, Kasnan (62), menyebutkan sedikitnya 10 bangunan rumah kini semakin terancam longsor. Delapan di antaranya berada sangat dekat dengan bibir longsoran, termasuk rumah miliknya.
“Tiap hari makin dekat. Kami jadi terus waspada,” katanya.




