BPS: Produksi Telur Ayam Ras di Semarang Capai 8ribu Ton Per Tahun

Pemaparan BPS Kota Semarang. /Foto: Ellya.

SEMARANG, 14/12 (BeritaJateng.tv) – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi telur ayam ras di Kota Semarang mencapai 8 ribu ton lebih pada 2019, jumlah tersebut tak berubah pada 2020 hingga 2021.

Data dari Tim Pengendali Inflasi Jateng, harga telur ayam ras di Kota Semarang mengalami penurunan Rp 700 perkilogramnya beberapa hari terakhir.

Dari data tersebut harga telur ayam ras di Kota Semarang pada Kamis (8/12) di angka Rp 30 ribu perkilogram. Harga tersebut terdata turun menjadi Rp 29.300 pada Senin (12/12) lalu.

Sementara di pasar tradisional yang ada di Kota Semarang, harga telur ayam ras masih mencapai Rp 30 ribu hingga Rp 32 ribu perkilogramnya.

“Sepekan ini memang harga telur ayam ras bertahan di harga Rp 29 ribu sampai Rp 32 ribu perkilogram,” papar Ninik pedagang sembako di Pasar Peterongan Kota Semarang, Rabu (14/12).

Naik turunnya harga telur ayam ras menurutnya wajar, lantaran banyak masyarakat yang membutuhkan telur ayam jelang Natal dan pergantian tahun.

Meski fluktuatif, namun jika dibandingkan dengan November lalu harga telur ayam ras mengalami kenaikan di kisaran Rp 7 ribu.

Walau pun mengalami kenaikan harga, pembeli di lapaknya tidak mengalami penurunan.

“November lalu harganya masih Rp 25 ribu perkilogramnya. Kalau jelang hari besar memang telur sering naik,” paparnya.

Ninik menuturkan bisa menjual 30 kilogram lebih telur ayam ras setiap harinya.

Menurutnya, konsumsi telur ayam di tingkat masyarakat justru melebihi hari biasa jelang hari besar Natal dan pergantian tahun.

Meski beberapa pelanggan mengeluh dengan kenaikan harga, namun tetap membeli telur ayam untuk dikonsumsi.

“Banyak yang beralih dari daging ayam ke telur, mungkin karena daging ayam mengalami kenaikan harga juga,” imbuhnya.

Adapun harga telur ayam ras di Pasar Karangayu Kota Semarang juga mencapai Rp 30 ribu lebih perkilogramnya.

Walaupun mengalami kenaikan, namun para pedagang di Pasar Karangayu menuturkan stok telur masih aman.

“Stok masih banyak, kalau langka sih menurut saya tidak juga,” ucap Subekti pedagang telur ayam di Pasar Karangayu.

Subekti mengatakan, pengalaman tahun-tahun sebelumnya kenaikan harga telur ayam akan mentok di angka Rp 33 ribu perkilogram.

Puncak harga tersebut akan terjadi satu hingga dua hari sebelum perayaan Natal. Setelah itu harga akan kembali normal hingga pergantian tahun.

“Biasanya seperti itu, tidak pernah sampai Rp 40 ribu atau lebih. Paling mentok di kisaran Rp 33 ribu lebih,” ucapnya.

Selain komoditi telur ayam, harga tomat di Kota Semarang juga terus merangkak naik. Hingga kini harga tomat masih cukup tinggi di angka Rp 18 ribu perkilogramnya.

Kenaikan harga tomat bahkan tembus di angka 200 persen lebih dibandingkan harga tomat pada November lalu.

“November lalu hanya Rp 8 ribu, sekarang Rp 18 ribu perkilogramnya,” tutur Wiji pedagang di Pasar Peterongan Kota Semarang.

Ia mengatakan, mahalnya harga tomat membuat pedagang enggan menyimpan tomat dengan jumlah banyak untuk dijual.

Pasalnya, tomat tidak bisa bertahan lama dan mudah membusuk jika disimpan lama. Jika ada pelanggan yang membeli tomat banyak, ia pun langsung memberikan harga miring.

“Yang penting laku dulu, kalau disimpan lama nanti busuk,” tuturnya.

Wiji menambahkan, permintaan tomat dari pembeli mengalami penurunan beberapa pekan terakhir. Biasanya ia bisa menjual 20 kilogram tomat beberapa hari sekali, kini kurang dari 10 kilogram.

“Mahalnya harga pastinya berpengaruh pada pembeli, sekarang peminat tak begitu banyak. Paling masyarakat beli beberapa biji saja,” tambahnya.

Penyebab Kenaikan Harga Telur dan Tomat

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Semarang, Nurkholis menanggapi kenaikan harga telur ayam ras dan tomat di sejumlah pasar tradisional di Kota Semarang.

Menurutnya, naiknya harga telur ayam ras dikarenakan meningkatnya konsumsi masyarakat jelang Natal dan pergantian tahun.

Selain itu kenaikan harga pakan ayam juga menjadi penyebab naiknya harga telur ayam ras.

“Kami imbau masyarakat tidak terlalu panik, atau memborong telur di pasar. Jangan khawatir karena stok telur ayam ras masih mencukupi,” paparnya.

Sementara kenaikan harga tomat disebutkan Nurkholis lantaran cuaca buruk yang melanda sentra pertanian tomat.

Ada beberapa wilayah yang menyuplai tomat ke Kota Semarang seperti Kabupaten Semarang dan Kendal.

Beberapa tempat tersebut juga dilanda cuaca ekstrem beberapa waktu terakhir.

“Banyak pentani gagal panen dan tomat busuk sebelum dikirim, hal itu membuat tomat mahal di pasar tradisional karena stoknya berkurang,” tambahnya.

Tinggalkan Balasan