“Sebenarnya ingin ke tabebuya yang viral juga, tapi keburu rontok, enggak sempat. Akhirnya ke sini,” ujarnya.
Mereka memilih datang selagi bunga bugenvil masih lebat. Sebab, keindahan tanaman tersebut tidak berlangsung sepanjang waktu dan akan berkurang ketika bunga mulai berguguran.
Bagi Nala dan Nana, suasana tersebut memberikan pengalaman berbeda. Mereka bisa mendapatkan foto dengan latar yang estetik tanpa harus mendatangi tempat wisata atau lokasi yang memang ԁirancang sebagai area swafoto.
BACA JUGA: Soal Ormas Lakukan Pungli PKL Pleburan Semarang, Disdag: Cukup Foto Video, Aparat Akan Bertindak
“Estetik fotonya, jadi fotonya bagus,” tuturnya.
Fenomena ini sekaligus menunjukkan bagaimana media sosial dapat mengubah sudut-sudut sederhana di kawasan permukiman menjadi lokasi yang menarik perhatian publik.
Pemilik rumah tempat bugenvil itu tumbuh, Edi Hariyanto, 78, mengatakan tanaman tersebut sudah berada di sisi rumahnya sejak beberapa tahun lalu.
Menurut Edi, bugenvil itu pertama kali ԁitanam pada 2019. Saat itu, ia tidak pernah menyangka tanaman yang berada di samping rumahnya bakal menarik perhatian banyak orang.
Kini, ketika bunga sedang bermekaran, sejumlah anak muda datang untuk berfoto. Edi mengaku tidak keberatan dengan aktivitas tersebut selama pengunjung tetap menjaga ketertiban.
Keberadaan bugenvil tersebut akhirnya menciptakan daya tarik baru di tengah permukiman Pleburan. Tidak ada dekorasi khusus, tiket masuk, maupun bangunan yang sengaja ԁibuat sebagai tempat wisata.
“Enggak kepikiran juga bakal viral tahun 2024 itu. Tapi enggak apa-apa, biar ramai kampungnya. Selama mereka tetap jaga ketertiban dan kebersihan, enggak apa-apa,” kata Edi. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





