Ia menambahkan, ada pula cerita lain yang berkembang di masyarakat. Karena lokasinya berdekatan dengan Masjid Agung Semarang, muncul guyonan bahwa sandal yang hilang di masjid akan ketemu lagi di Pasar Maling.
“Itu lebih kepada cerita yang berkembang di masyarakat. Sampai sekarang masih sering di ceritakan sebagai bagian dari sejarah Pasar Maling,” ucapnya.
Kini, di tengah menjamurnya pusat perbelanjaan modern dan perdagangan digital, Pasar Maling Johar tetap mempertahankan identitasnya.
Bukan hanya sebagai tempat berburu barang bekas berkualitas, tetapi juga sebagai ruang yang menyimpan tradisi unik berupa bahasa rahasia pedagang yang telah bertahan selama lebih dari empat dekade.
Bagi para pedagang, bahasa prokem bukan sekadar alat komunikasi, melainkan simbol solidaritas sekaligus warisan budaya pasar tradisional yang terus terjaga agar tidak hilang oleh zaman. (*)





