Selain itu, Wahyudi juga menyoroti pentingnya pemanfaatan SDM lokal, termasuk lulusan Politeknik Energi dan Mineral Akamigas di Cepu yang dinilai memiliki kompetensi kuat di bidang minyak dan gas.
Menurutnya, sebagian lulusan tahun 2026 berpotensi terlibatkan untuk mendukung tugas BPH Migas. Khususnya dalam kegiatan monitoring dan evaluasi penyaluran BBM bersubsidi serta program kompensasi negara.
Dengan potensi energi, ia optimistis Blora dapat berkembang lebih maju. Distribusi energi diharapkan menjangkau berbagai sektor. Mulai dari kebutuhan rumah tangga, pelaku UMKM, hingga industri yang memerlukan pasokan gas.
“Blora pasti bisa maju. Energinya sudah siap dan dapat didistribusikan ke berbagai sektor, baik masyarakat, UMKM, maupun industri yang membutuhkan gas,” pungkasnya.
Saat ini Pemerintah Kabupaten Blora juga tengah mempersiapkan usulan kepada Kementerian Kehutanan Republik Indonesia agar lahan seluas sekitar 1.300 hektare di kawasan Cemoro Modang. Tepatnya di Pos DX, dapat teralihfungsikan menjadi kawasan industri berbasis gas.
BACA JUGA: Pasca Ambruknya Panggung, Arief Rohman Janji Adakan Pengajian Akbar Gus Iqdam Tahun Depan
Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya memaksimalkan potensi energi yang Blora miliki. Pasokan gas untuk kawasan industri di Batang juga berasal dari wilayah Blora.
Kabupaten Blora sendiri memiliki cadangan gas cukup besar. Di antaranya dari Blok Gundih serta sejumlah potensi gas lain yang saat ini masih dalam tahap pengembangan. (*)
Editor: Farah Nazila




