Dalam suasana yang cair, Arief sempat melontarkan candaan terkait lokasi penempatan mahasiswa yang ia nilainya masih berada di desa-desa yang relatif dekat dengan pusat kota.
“Saya mau tanya, kenapa lokasi KKN-nya enak-enak, ya? Dekat kota semua. Padahal Blora punya 271 desa, bahkan ada yang berada di tengah hutan. Ini permintaan kampus atau mahasiswanya?” ujarnya yang tersambut tawa peserta.
Meski ia sampaikan dengan nada bercanda, Arief berharap ke depan lokasi KKN dapat menjangkau desa-desa yang lebih membutuhkan pendampingan agar manfaat program semakin luas.
Ia juga menyoroti persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS) yang masih menjadi tantangan pembangunan di Kabupaten Blora. Karena itu, mahasiswa diminta ikut berkontribusi melalui edukasi dan pendampingan masyarakat selama menjalankan program KKN.
Lebih lanjut, Arief menegaskan bahwa pelaksanaan KKN harus menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.
“Saya ingin ada output berupa karya nyata yang berkelanjutan. Jangan hanya meninggalkan laporan kegiatan, tetapi tinggalkan program yang manfaatnya tetap masyarakat rasakan setelah KKN selesai. Sebelum penarikan nanti, saya juga minta ada pameran hasil karya sebagai bentuk pertanggungjawaban pengabdian,” tegasnya.
BACA JUGA: Begini Kronologi Mahasiswa KKN UIN Walisongo yang Hanyut di Sungai, Berlokasi di Kendal
Bupati juga mengajak seluruh mahasiswa menjadikan KKN sebagai ruang belajar langsung bersama masyarakat dengan tetap menjunjung tinggi etika, menghormati budaya lokal, serta membangun komunikasi yang baik dengan pemerintah desa dan warga.
Di akhir sambutannya, Arief berharap seluruh rangkaian KKN UNY Tahun 2026 berjalan lancar dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat, mahasiswa, maupun Pemerintah Kabupaten Blora.
Ia juga mendorong UNY bersama pemerintah daerah untuk terus menyempurnakan pemetaan lokasi KKN agar mahasiswa dapat menjangkau desa-desa yang memiliki kebutuhan pendampingan lebih besar dan menghasilkan program pengabdian yang semakin berdampak. (*)
Editor: Farah Nazila





