SEMARANG, beritajateng.tv – Proyek tol Semarang-Demak berdampak terhadap kerusakan jalan di sekitar Jalan Kawasan Industri Terboyo, Kecamatan Genuk, Kota Semarang.
Jalan di sekitar kawasan tersebut rusak akibat lalu lalang truk yang mengangkut material tanah dan batu untuk proyek tol Semarang-Demak seksi pertama.
Yulianto, salah satu pekerja di PT Ebako Nusantara, mengungkapkan aktivitas dirinya sangat terdampak dengan adanya lalu-lalang truk proyek tol Semarang-Demak.
Setidaknya, dalam setahun belakangan ini ia mesti berhati-hati tiap kali berangkat dan pulang bekerja sewaktu melintasi Jalan Kawasan Industri Terboyo.
“Pernah naik motor tiba-tiba ada motor lain yang nyelonong. Saya ngerem mendadak dan akhirnya tergelincir di jalanan yang berlumpur. Tangan terkilir dan baju berlumuran lumpur,” ungkapnya, Selasa, 22 April 2025.
BACA JUGA: Kementerian PU Sebut Tol Semarang-Demak Seksi 1B Jadi Bagian Giant Sea Wall, Target Rampung 2027
Kecelakaan Yulianto bukan kecelakaan biasa. Pasalnya, ia terpaksa berkendara dengan sedikit ugal-ugalan karena macet di Jalan Kawasan Industri Terboyo yang sudah tak masuk akal.
Tiap harinya, ia dan ribuan buruh lain yang juga bermotor harus mandek jika berbarengan dengan truk-truk besar yang membawa pasir dan batu. Begitu ada celah di sela-sela truk, mereka langsung tancap gas.
Belum lagi kondisi jalanan yang semakin jelek setiap harinya, membuat perjalanan ribuan buruh itu menjadi terhambat.
“Jalan ini adalah jalur utama dari truk-truk proyek melintas. Jadi para pekerja harus bergantian dalam melewati jalur tersebut. Sekarang jalannya rusak semua,” lanjutnya.
Dampak proyek tol Semarang-Demak pada pabrik industri
Lebih jauh, proyek tol Semarang-Demak tidak hanya berdampak pada aktivitas pekerja saja. Para pengusaha pemilik pabrik juga mendapat imbas dari lalu-lalang truk proyek ini.
Ketua Paguyuban Kawasan Industri Terboyo Semarang (KITS), Eny Sulistyowati, mengakui bahwa usahanya sangat terdampak dari lalu lintas truk proyek tol Semarang-Demak ini.
Salah satu dampaknya yang paling terasa adalah mobilitas pekerja yang terhambat karena akses para pekerja yang terganggu.
“Waktu-waktu macet paling parah ada di pagi hari karena bersamaan dengan jam masuk pegawai. Tapi bisa juga terjadi pada siang, bahkan malam hari,” ungkap Eny.
BACA JUGA: Banjir Belum Surut, Ini Jalan Alternatif Hindari Genangan di Pantura Kaligawe Semarang-Demak
Setiap harinya, lanjut Eny, sedikitnya 1.000 truk yang keluar masuk di Jalan Kawasan Terboyo. Dengan truk sebanyak itu, jalanan di sekitar pabrik membuat jalanan rusak dan berlumpur.
“Sehingga banyak pekerja yang jadi korban. Banyak pekerja yang jatuh dan luka-luka,” katanya.
Di sisi lain, ia menegaskan bahwa dirinya tidak memprotes pembangunan tol Semarang-Demak, bahkan ikut mendukung. Pasalnya, berkat pembangunan tanggul laut, wilayah pabrik juga tidak lagi kebanjiran.
Hanya saja, ia meminta pemerintah uuntuk lebih memberi perhatian pada Jalan Kawasan Terboyo sehingga akses di sekitarnya menjadi lancar.
“Kami di sini butuh kenyamanan dalam bekerja. Kami juga punya hidup dan banyak pekerja kami yang harus dihidupi. Entah jalan diperbaiki atau diatur lalu lintas truk-truk tadi,” pungkasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





