SEMARANG, beritajateng.tv – Suasana sebuah rumah produksi di Jalan Hiri 3 Nomor 6, Karangtempel, Semarang Timur, terasa semakin sibuk menjelang Tahun Baru Imlek 2026/2577.
Di antara deretan kepala barongsai berwarna mencolok, Candra Wiro Utomo atau Oei Wie Hong, tampak tekun menggoreskan kuas di bagian mata sebuah barongsai.
Sentuhan terakhir itu menjadi penentu karakter dan “nyawa” dari setiap karya. Dengan ketelitian tinggi, pria berusia 40 tahun tersebut memastikan setiap detail warna dan ekspresi barongsai tampil sempurna sebelum dikirim ke pemesan.
Menjelang Imlek tahun ini, aktivitas di rumah produksi milik Candra meningkat drastis. Bersama enam orang karyawannya, ia harus berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan pesanan yang datang hampir bersamaan.
“Produksi untuk Imlek 2026 ini agak sedikit kacau. Biasanya dua sampai tiga bulan sebelumnya sudah ada pesanan. Tapi kali ini banyak yang pesan mendadak, baru masuk Januari, jadi persiapannya cukup kewalahan,” ujar Candra di lokasi produksi, Rabu, 28 Januari 2026.
Lonjakan pesanan membuat stok bahan baku sempat menipis. Apalagi, permintaan tidak hanya datang dari Jawa Tengah, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia.
“Hampir menyeluruh se-Indonesia, dari Kalimantan, Sumatera, Pulau Jawa, Makassar, Sulawesi, bahkan sampai Papua,” ungkapnya.
Tahun ini, sejumlah pelanggan juga mengajukan desain khusus yang menyesuaikan dengan perayaan Imlek Shio Kuda Api. Salah satunya adalah permintaan kepala naga dengan karakter menyerupai kuda.
BACA JUGA: Rekomendasi Wisata Imlek di Kota Semarang untuk Liburan Keluarga, Ada Barongsai hingga Kulineran
Tak hanya itu, Candra juga mengerjakan pesanan naga berukuran raksasa dengan panjang mencapai 47 meter dan diameter tubuh sekitar 60 sentimeter. Naga tersebut memiliki lingkar badan hampir dua meter.
“Lingkar badannya sekitar 190 sentimeter,” jelasnya.
Pesanan naga berukuran besar tersebut berasal dari Singkawang dan Ketapang, Kalimantan Barat, daerah yang terkenal memiliki tradisi barongsai dan liong yang kuat.
Untuk satu set barongsai, harga yang di patok Candra masih sama seperti tahun sebelumnya, yakni di kisaran Rp6,5 juta. Dalam satu paket, pembeli sudah mendapatkan satu kepala barongsai, badan, dua celana, serta dua pasang sepatu.
“Tidak ada kenaikan harga. Tahun lalu juga stagnan, enggak naik, enggak turun. Yang bikin berat itu orderannya mepet,” keluhnya.
Proses pembuatan barongsai sendiri bukan pekerjaan singkat. Setiap unit melewati tahapan panjang dan detail, mulai dari pembuatan rangka berbahan rotan, kemudian penempelan, pengecatan, hingga pemasangan bulu.
“Kalau satu barang, pengerjaan bisa lima sampai tujuh hari. Tapi karena momennya barengan, kami kerjakan massal. Rangka dulu semua, tempelan semua, lalu kami lukis bareng-bareng, terakhir pasang bulu,” terang Candra.
Beberapa bahan baku bahkan harus dia datangkan dari luar negeri. Bulu domba dan bulu kelinci yang menjadi ornamen utama kepala barongsai masih harus ia impor karena belum tersedia di dalam negeri.
Usaha barongsai yang Candra tekuni bukanlah bisnis baru. Ia merupakan generasi keempat dalam keluarga pengrajin barongsai. Menurutnya, menjaga usaha agar tetap bertahan lintas generasi tidak hanya soal kualitas produk.
“Rahasianya itu kepercayaan. Kalau kita enggak di percaya orang, enggak mungkin orderan bisa sebanyak ini,” tegasnya.
Kepercayaan tersebut membuat pelanggan terus kembali dan merekomendasikan rumah produksi Candra ke komunitas barongsai lain di berbagai daerah.
Di tengah gempuran produk barongsai impor, Candra memilih bertahan dengan keunggulan yang sulit ditiru, yakni fleksibilitas pesanan sesuai permintaan pelanggan.
“Produk impor itu sudah jadi. Kalau di sini, pembeli bisa request warna, motif, sampai karakter tertentu. Itu yang bikin mereka lebih suka pesan ke kami,” katanya.
Pesanan Melejit
Menjelang Imlek, jumlah pesanan barongsai dan naga yang masuk mencapai puluhan unit. Meski belum menembus ratusan untuk satu momen, secara keseluruhan produksi dalam setahun bisa mencapai ratusan unit, seiring semakin seringnya pertunjukan dan kejuaraan barongsai digelar.
“Sekarang hampir tiap bulan ramai. Barongsai sudah jadi cabang olahraga resmi di PON, jadi event pertandingannya rutin,” ujarnya.
Karena lonjakan pesanan yang datang terlalu dekat dengan perayaan Imlek, rumah produksi ini akhirnya menutup pemesanan untuk sebelum Imlek.
“Sekarang sudah close order. Kalau mau, kami terima PO untuk after Imlek,” katanya.
Di balik warna-warna mencolok dan gerakan atraktif barongsai di panggung perayaan, ada tangan-tangan pengrajin yang bekerja dalam senyap. Bagi Candra, menjaga tradisi barongsai bukan sekadar soal bisnis, melainkan upaya merawat warisan budaya yang telah diwariskan turun-temurun. (*)
Editor: Elly Amaliyah





