Feature

Nostalgia Retronomic, Berburu Kaset Pita Lawas dari Warung Nasi Padang di Semarang

×

Nostalgia Retronomic, Berburu Kaset Pita Lawas dari Warung Nasi Padang di Semarang

Sebarkan artikel ini
Deny (53) saat menunjukkan dagangan kaset pita di Rumah Makan Padang Jaya miliknya di Ruko Bubakan Baru Jalan KH Agus Salim, Purwodinatan, Semarang Tengah, Kota Semarang, Rabu, 14 Oktober 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)
Deny (53) saat menunjukkan dagangan kaset pita di Rumah Makan Padang Jaya miliknya di Ruko Bubakan Baru Jalan KH Agus Salim, Purwodinatan, Semarang Tengah, Kota Semarang, Rabu, 14 Oktober 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Deretan kaset pita lawas berjajar di dalam sebuah warung nasi Padang di Kota Semarang. Di sini, Deny (53) menawarkan pengalaman berbeda bagi siapapun yang ingin bernostalgia dengan berburu pita kaset album musik lawas.

Kaset pita itu tertata dalam tumpuk-tumpukan di meja maupun rak dinding. Sebagiannya sejajar dengan menu-menu kuliner nasi Padang yang dijajakan untuk pelanggan.

Deny merupakan generasi ketiga pedagang nasi Padang sekaligus penjual kaset pita tersebut. Dia meneruskan kedua usaha yang telah berdiri sejak 1977, di Rumah Makan Padang Jaya, Ruko Bubakan Baru Jalan KH Agus Salim, Purwodinatan, Semarang Tengah, Kota Semarang.

Ya, di tengah perkembangan jaman mengonsumsi musik melalui layanan atau teknologi digital, nostalgia pita kaset menjadi konsep retronomic yang masih Deny geluti.

“Dahulu ceritanya awaln menjual nasi (Padang), terus punya kaset yang kita putar. Ada orang beli, terus langsung jualan kaset pita,” tutur Deny di warungnya, Rabu, 14 Oktober 2026.

BACA JUGA: Potret Seniman Kaligrafi India Gori Yusuf Husen, Wariskan Teknik Klasik ke Penjuru Dunia

Dia bercerita, musik setiap pemutaran musik dari kaset pita untuk menemani pelanggan yang sedang makan. Kebiasaan tersebut justru membuka peluang usaha lain.

Deny mengatakan, ada pelanggan yang memulai membeli kaset pita usai tertarik mendengarkan lagu-lagu yang diputar. Berjalannya wakytu, nasi Padang dan kaset menjadi dua bagian yang tak terpisahkan dari warung tersebut.

“Tujuannya kita menghibur. Makan kalau suasana tenang ini kan enggak enak. Ada musik kita bisa terhibur,” katanya.

Menurut Deny, menghadirkan musik di warung juga menjadi cara sederhana untuk memberikan hiburan kepada pelanggan tanpa harus mendatangkan artis. Dari situlah usaha penjualan kaset berkembang, bahkan pernah mencapai masa kejayaan ketika kaset terjual dalam jumlah besar setiap harinya.

Anak Sekolah hingga Mahasiswa Ikut Berburu Kaset