Menurut Dedi, kecepatan angin melebihi 27 knot memperparah risiko. Kondisi tersebut tidak hanya membahayakan kapal cepat dan nelayan. Kapal besar, termasuk kapal pesiar, juga menghadapi ancaman serius.
Ia menegaskan pentingnya penundaan pelayaran. “Kami meminta seluruh nakhoda dan operator kapal menunda perjalanan hingga cuaca membaik,” katanya. Imbauan tersebut berlaku bagi kapal penumpang, kapal cepat, serta kapal kayu tradisional.
Selain itu, Dedi menyoroti risiko bagi kapal dengan konstruksi kayu. Kapal berfreeboard rendah dinilai paling rentan terhadap gelombang tinggi. Keselamatan penumpang menjadi prioritas utama.
BACA JUGA: Wujudkan Transparansi, Bank Jateng Dukung Aplikasi e-Retribusi Pasar Jepara
Penghentian Penyeberangan Jepara Karimunjawa berdampak pada aktivitas wisata dan logistik. Sejumlah penumpang terpaksa menunda perjalanan. Operator kapal juga melakukan penyesuaian jadwal keberangkatan.
Pihak pelabuhan terus memantau perkembangan cuaca secara berkala. Koordinasi dengan BMKG dan SROP tetap berjalan intensif. Informasi terbaru akan tersampaikan kepada masyarakat.
Dengan kondisi cuaca belum stabil, otoritas meminta masyarakat memahami situasi. Keselamatan pelayaran menjadi pertimbangan utama. Hingga saat ini, Penyeberangan Jepara Karimunjawa masih menunggu cuaca benar-benar kondusif. (*)





