JEPARA, beritajateng.tv – Penyeberangan Jepara Karimunjawa kembali berhenti total setelah kondisi cuaca laut memburuk secara signifikan. Otoritas pelabuhan mengambil langkah penghentian demi menjaga keselamatan pelayaran. Keputusan tersebut berlaku untuk seluruh rute Jepara menuju Karimunjawa maupun arah sebaliknya.
Sebelumnya, kapal penumpang sempat melayani penyeberangan pada Senin, 18 Januari 2026. Kapal Siginjai dan Express Bahari berangkat dari Pelabuhan Kartini menuju Karimunjawa. Otoritas setempat sempat memberi izin berlayar setelah evaluasi cuaca awal.
Namun demikian, kondisi lapangan menunjukkan situasi berbeda. Cuaca laut memburuk saat kapal berada pada tengah perairan. Gelombang tinggi serta angin kencang meningkatkan risiko pelayaran.
Petugas Kesyahbandaran Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas II Jepara, Dedi Agus Triyanto, menjelaskan dasar penghentian tersebut. Ia merujuk peringatan dini cuaca dari BMKG Maritim Semarang. “BMKG memprediksi gelombang tinggi terjadi mulai Rabu pagi hingga Kamis pagi,” kata Dedi Agus Triyanto, Rabu, 21 Januari 2026.
BACA JUGA: Cuaca Jateng Ekstrem, Kabupaten Tegal Hingga Jepara Masuk Zona Merah BMKG
Menurutnya, peringatan tersebut mencakup Perairan Jepara serta Kepulauan Karimunjawa bagian barat dan timur. Tinggi gelombang berkisar antara 1,25 hingga 2,5 meter. Kecepatan angin juga terpantau cukup tinggi.
Dedi Agus Triyanto menjelaskan batas risiko pelayaran. “Gelombang 1,25 meter dengan angin di atas 15 knot sudah berbahaya bagi perahu nelayan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kapal tongkang menghadapi risiko lebih besar saat gelombang melampaui 1,5 meter.
Penyeberangan Jepara Karimunjawa Hadapi Gelombang Ekstrem
Situasi di lapangan ternyata lebih ekstrem dibanding prakiraan awal. Laporan Stasiun Radio Pantai Jepara mencatat tinggi gelombang mencapai 4 meter. Kondisi tersebut meningkatkan ancaman keselamatan bagi seluruh jenis kapal.
Dedi Agus Triyanto mengungkapkan laporan tersebut. “Informasi dari SROP Jepara menyebut gelombang tengah laut mencapai empat meter,” ucapnya. Berdasarkan laporan itu, pihaknya langsung mengambil langkah penghentian pelayaran.
Menurut Dedi, kecepatan angin melebihi 27 knot memperparah risiko. Kondisi tersebut tidak hanya membahayakan kapal cepat dan nelayan. Kapal besar, termasuk kapal pesiar, juga menghadapi ancaman serius.
Ia menegaskan pentingnya penundaan pelayaran. “Kami meminta seluruh nakhoda dan operator kapal menunda perjalanan hingga cuaca membaik,” katanya. Imbauan tersebut berlaku bagi kapal penumpang, kapal cepat, serta kapal kayu tradisional.
Selain itu, Dedi menyoroti risiko bagi kapal dengan konstruksi kayu. Kapal berfreeboard rendah dinilai paling rentan terhadap gelombang tinggi. Keselamatan penumpang menjadi prioritas utama.
BACA JUGA: Wujudkan Transparansi, Bank Jateng Dukung Aplikasi e-Retribusi Pasar Jepara
Penghentian Penyeberangan Jepara Karimunjawa berdampak pada aktivitas wisata dan logistik. Sejumlah penumpang terpaksa menunda perjalanan. Operator kapal juga melakukan penyesuaian jadwal keberangkatan.
Pihak pelabuhan terus memantau perkembangan cuaca secara berkala. Koordinasi dengan BMKG dan SROP tetap berjalan intensif. Informasi terbaru akan tersampaikan kepada masyarakat.
Dengan kondisi cuaca belum stabil, otoritas meminta masyarakat memahami situasi. Keselamatan pelayaran menjadi pertimbangan utama. Hingga saat ini, Penyeberangan Jepara Karimunjawa masih menunggu cuaca benar-benar kondusif. (*)





