SALATIGA, beritajateng.tv – Sejumlah mahasiswa internasional mengaku tak keliru memilih studi lanjut di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga melalui program Satya Wacana International Scholarship (SWIS).
Selain kedekatan budaya, mereka juga mengaku bisa merasakan langsung atmosfer akademik dan lingkungan sosial yang inklusif dan terbangun dengan baik di kampus UKSW.
Sehingga, kondisi itu sangat membantu mereka dalam beradaptasi dengan lingkungan tinggal serta belajar yang baru. Setidaknya ini terungkap oleh mahasiswi asal Madagaskar, Arony Aina Rojotiana.
Mahasiswi S-1 Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UKSW ini mengaku tak merasakan perlakuan yang berbeda dari kampus maupun teman sesama mahasiswa.
“Para dosen di UKSW ini juga mengajar dengan baik dan mudah saya pahami, meski saya mahasiswa internasional,” jelasnya di kampus UKSW Salatiga, Senin, 19 Januari 2026 sore.
BACA JUGA: SWIS 2026 Buka, UKSW Salatiga Perkuat Daya Saing Global Pendidikan Tinggi
Arony mengatakan, pertama kali datang di UKSW, ia hampir tak merasakan perbedaan dengan di negaranya. Sebab, mahasiswa di kampus tersebut cukup beragam dan toleransinya pun bagus.
“Karena memang di Madagaskar, sebuah negara kepulauan yang berada di Samudera Hindia sebelah timur benua Afrika, juga banyak populasi warga yang merupakan keturunan bangsa Indonesia,” ungkapnya.
Dari aspek budaya, kata dia, juga masih ada beberapa kemiripan dengan di Indonesia. Hal yang menurutnya butuh effort (upaya) selama berada di Salatiga yakni membiasakan dengan masakan Indonesia.
“Walaupun hampir ada beberapa kemiripan, selera makanan di sini (Indonesia) umumnya cenderung pedas,” jelas mahasiswi program SWIS tahun 2025 yang telah mulai fasih berbahasa Indonesia ini.
Kata Mahasiswi Internasional Asal Myanmar yang Studi Lanjut di UKSW Salatiga
Sementara itu, mahasiswi Magister Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) asal Myanmar, Sint Thae Mar, mengaku menentukan studi lanjut di UKSW lantaran menyukai Indonesia.





