“Nomor satu, saya menjadi lebih ringan pekerjaannya karena sudah ada Sekda definitif dan tidak ada lagi PJ (penjabat sekda). Kalau PJ itu kan separuh tugasnya ada di sana, separuh di sini, kasihan juga. Sekarang roda pemerintahan berjalan dengan squad yang penuh,” ujarnya.
Menampik adanya isu penundaan pelantikan, Wali Kota menegaskan bahwa seluruh tahapan berjalan sesuai dengan lini masa panitia seleksi (pansel).
Proses pengisian jabatan tertinggi birokrasi di Pemkot Semarang ini dilakukan melalui metode pendaftaran terbuka guna menjamin transparansi.
Dari proses penyaringan awal, tersisa empat kandidat yang kemudian mengerucut menjadi tiga nama terbaik setelah melewati berbagai tahapan persyaratan ketat dari pansel.
“Semua prosesnya benar-benar terbuka. Dari Badan Kepegawaian Negara (BKN) turun tiga nama, dan saya harus memilih satu. Saya pilih yang nilainya paling besar (tertinggi),” katanya.
Sosok Handi Priyanto
Sosok Handi Priyanto menurutnya membawa angin segar bagi ibu kota Jawa Tengah. Meski datang dari luar daerah, Handi memiliki rekam jejak mentereng sebagai mantan Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) yang menorehkan prestasi di tingkat nasional.
Keunggulan inilah yang akan di optimalkan Pemkot Semarang untuk menggenjot Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Tantangan positif yang hari ini harus di jawab dan menjadi keunggulan dari Pak Sekda kita adalah latar belakang beliau sebagai Kepala Bapenda yang sangat berprestasi di tingkat nasional. Jika Kota Semarang mau meningkatkan PAD, dengan menutup kebocoran yang ada, serta melakukan intensifikasi. Saya kira ini akan sangat bisa di realisasikan,” lanjut Agustina.
Dia menambahkan, tugas mendesak yang kini disiapkan untuk Sekda baru bersama TAPD adalah mengabstraksikan tugas dan tanggung jawab Pemkot Semarang berjalan di tahun anggaran 2026. Sekaligus menyusun proyeksi matang untuk tahun 2027 dengan mengacu pada RPJMD yang ada.
Ia memaparkan, fokus utama Kota Semarang di tahun 2026 bertumpu pada sektor ketahanan pangan dan lingkungan hidup.





