“Anak-anak sekarang hidup di dunia digital. Tugas guru bukan melarang, tapi membimbing,” kata Eko.
Inovasi Eko juga melahirkan Osi Ceria, aplikasi pembelajaran berbasis Augmented Reality (AR) tentang sistem pencernaan manusia. Melalui kartu marker, siswa dapat melihat organ pencernaan secara 3D lengkap dengan video, kuis, dan tantangan berbentuk game.
Aplikasi ini mengantarkan Eko meraih Juara II Guru Berprestasi Tingkat Kota Semarang 2025. Menurutnya, media interaktif membuat siswa tidak sekadar membaca, tetapi mengalami proses belajar secara visual dan kontekstual.
Bersama tim guru, Eko juga terlibat dalam pengembangan buku numerasi berbasis kearifan lokal. Anak-anak diajak belajar geometri dan pengukuran langsung di lingkungan sekitar, kampung tematik, pasar tradisional, hingga kawasan ikonik Kota Semarang.
BACA JUGA: Mbah Guru Matematika Viral Ngajar di TikTok Live Dapat Penghargaan dari Prabowo, Dapat Rp100 Juta!
Program ini berdampak nyata. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan kemampuan numerasi siswa hingga lebih dari 40 persen, jauh melampaui target awal.
“Lingkungan sekitar adalah laboratorium belajar terbaik,” ujarnya.
Bagi Eko Prasetyo, inovasi bukan soal teknologi canggih semata, melainkan keberanian mengubah cara pandang. Dari kelas yang pasif menjadi ruang eksplorasi, dari rumus yang menakutkan menjadi cerita kehidupan sehari-hari.
“Harapan saya sederhana. Anak-anak senang belajar dan merasa apa yang mereka pelajari itu berguna untuk hidupnya kelak,” pungkasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





