Gaya Hidup

Dari Sentuhan ke Keimanan, Ikhtiar Penyandang Disabilitas Netra Memaknai Ramadan Lewat Al-Qur’an

×

Dari Sentuhan ke Keimanan, Ikhtiar Penyandang Disabilitas Netra Memaknai Ramadan Lewat Al-Qur’an

Sebarkan artikel ini
Semangat penyandang disabilitas netra saat belajar Al-Qur’an melalui huruf Braille. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)
Semangat penyandang disabilitas netra saat belajar Al-Qur’an melalui huruf Braille. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Keterbatasan penglihatan tidak membatasi semangat beribadah. Di Kota Semarang, ratusan penyandang disabilitas netra justru memanfaatkan Ramadan untuk memperdalam pemahaman Al-Qur’an melalui huruf Braille.

“Di balik ketunanetraan, kami tetap harus mencari cahaya. Cahaya itu adalah hidayah. Walaupun kami tidak bisa melihat jalan secara fisik, melalui Al-Qur’an kami tahu mana jalan yang benar dan mana yang salah.”

Kalimat tersebut disampaikan Abdul Manan Ketua Bidang Pendidikan dan Dakwah Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) Kota Semarang saat membuka percakapan tentang kegiatan Pesantren Ramadan.

Kegiatan itu berlangsung di kompleks Balai Latihan Kerja (BLK) 2 Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Tengah, Jalan Majapahit, Kota Semarang pada Minggu, 15 Maret 2026.

Di tengah suasana Ramadan, kegiatan ini bukan sekadar agenda keagamaan rutin, melainkan ruang pembuktian bahwa keterbatasan penglihatan tidak menghalangi seseorang untuk mendekatkan diri pada Al-Qur’an.

BACA JUGA: Komunitas Sahabat Mata Dukung Tunanetra Beribadah, Gunakan Al Quran Braille 

Abdul Manan menjelaskan, pesantren Ramadan tahun ini mengusung tema “Sentuhan Cahaya di Balik Jendela Netra”. Menurutnya, tema tersebut memiliki makna mendalam bagi para peserta.

“Cahaya yang dimaksud bukan cahaya fisik, melainkan hidayah yang membimbing manusia menuju jalan hidup yang benar,” ujar Manan.

Di salah satu ruangan sederhana, puluhan peserta duduk rapi. Jari-jari mereka menyentuh lembaran mushaf Al-Qur’an Braille, membaca ayat demi ayat melalui titik-titik timbul yang diraba perlahan.

Suara lantunan ayat suci terdengar berpadu, menciptakan suasana khusyuk yang sarat makna. Bagi para peserta, membaca Al-Qur’an bukan sekadar rutinitas ibadah, tetapi juga proses panjang yang penuh ketekunan.

Sekitar 120 penyandang disabilitas netra dari kota Semarang mengikuti Pesantren Ramadan yang digelar ITMI. Mereka tidak hanya belajar membaca Al-Qur’an Braille, tetapi juga mengasah kemampuan hidup lainnya.

Peserta kegiatan tidak hanya berasal dari Kota Semarang, tetapi juga dari wilayah sekitar seperti Ungaran dan Demak. Bahkan, sebagian peserta mengikuti pembelajaran secara daring dari luar daerah.

Al Quran Braille Jadi Program Utama ITMI

Manan menjelaskan, pembelajaran Al-Qur’an Braille menjadi salah satu program utama ITMI. Identitas sebagai penyandang disabilitas netra muslim, menurutnya, membawa tanggung jawab moral untuk tetap mampu membaca kitab suci.

“Status kami sebagai tunanetra muslim seperti label yang mengharuskan kami bisa membaca Al-Qur’an. Walaupun tidak bisa melihat, minimal kami harus bisa membacanya, karena Al-Qur’an adalah pedoman hidup,” katanya.

Ia mengakui masih banyak penyandang disabilitas netra lain yang belum mampu membaca Al-Qur’an Braille. Karena itu, ITMI menjalankan program pembelajaran khusus agar anggota maupun masyarakat disabilitas netra dapat mempelajarinya secara bertahap.

Program tersebut telah berjalan sekitar tiga tahun dan mulai menunjukkan hasil. Dalam Pesantren Ramadan tahun ini, beberapa peserta bahkan mampu mengikuti tadarus hingga mengkhatamkan Al-Qur’an.

“Alhamdulillah, tadi sore ada peserta yang sudah bisa ikut tadarus selama Ramadan bahkan mengkhatamkan Al-Qur’an. Itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami,” ujarnya.

Selain pembelajaran Al-Qur’an Braille, peserta juga mengikuti kajian keislaman dan tausiah. Pendekatan ceramah dan diskusi membuat mereka semakin aktif dalam memahami nilai-nilai agama.

Semangat peserta tetap terjaga meski jadwal kegiatan cukup padat. Ramadan dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperkuat ibadah dan memperdalam pemahaman spiritual.

“Kami ingin menyemarakkan Ramadan dengan mempelajari Al-Qur’an. Walaupun capek, kami tetap mendorong diri agar menjadi bagian dari orang-orang yang memuliakan Ramadan,” kata Manan.

Sementara itu, Ketua Pengurus Daerah ITMI Kota Semarang, Andy Setiyono, mengatakan Pesantren Ramadan ini merupakan agenda rutin tahunan organisasi untuk menghadirkan suasana Ramadan yang lebih khusyuk bagi para penyandang disabilitas netra.

“Momentum Ramadan ini kami gunakan agar teman-teman tunanetra bisa merasakan suasana ibadah yang lebih mendalam. Selama dua hari mereka belajar Al-Qur’an Braille, mengikuti kajian keislaman, dan juga khatmil Qur’an,” ujar Andy.

BACA JUGA: Pacaran dengan Seleb Malaysia, Jefri Nichol Ungkap Awal Perkenalan: Balas Story Ayat Al-Quran

Tak hanya memperkuat spiritualitas, kegiatan tersebut juga menekankan aspek kemandirian ekonomi. Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan pelatihan pijat, khususnya teknik totok punggung untuk meningkatkan kemampuan terapi.

Menurut Andy, pelatihan ini juga menjadi bagian dari upaya mengubah stigma masyarakat terhadap penyandang disabilitas netra.

“Kami ingin menunjukkan bahwa teman-teman tunanetra memiliki semangat belajar yang tinggi. Walaupun membaca Al-Qur’an Braille tidak mudah, mereka tetap berusaha,” katanya. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp