Pariwisata

Di Balik Viral Gunung Kawi, Kisah Ritual Pesugihan dan Peringatan agar Tak Tergiur Jalan Instan

×

Di Balik Viral Gunung Kawi, Kisah Ritual Pesugihan dan Peringatan agar Tak Tergiur Jalan Instan

Sebarkan artikel ini
SEMARANG, beritajateng.tv - Media sosial akhir-akhir ini ramai dengan berbagai unggahan mengenai praktik pesugihan di Gunung Kawi, Jawa Timur.
Kolektor benda Pusaka asal Semarang, Fajar Purwoto. (Ellya/beritajateng.tv)

“Katanya, juru kunci justru akan mengingatkan lebih dulu tentang risiko yang harus di tanggung. Mereka bertanya apakah benar-benar siap menerima konsekuensi dari perjanjian yang di buat,” katanya.

Menurut Fajar, dalam berbagai cerita yang beredar di masyarakat, konsekuensi itu sering terkait dengan adanya permintaan tumbal.

Dia menegaskan bahwa cerita tersebut merupakan kepercayaan yang berkembang di kalangan tertentu dan tidak dapat kita buktikan secara ilmiah.

“Ada yang percaya harus ada tumbal anggota keluarga, ada juga bentuk konsekuensi lain. Cerita-cerita seperti itu memang banyak beredar dari mulut ke mulut,” tuturnya.

Pesugihan Bertentangan dengan Ajaran Agama

Bagi Fajar, apa pun bentuknya, praktik pesugihan bertentangan dengan ajaran agama karena dianggap sebagai bentuk menyekutukan Tuhan.

“Tuhan sudah melarang manusia mencari kekayaan dengan cara seperti itu. Hidup ini hanya sementara. Jangan sampai karena ingin cepat kaya justru mengorbankan kehidupan dunia dan akhirat,” ujar pensiunan ASN Pemkot Semarang ini.

Ia juga menyoroti kondisi ekonomi yang menurutnya membuat sebagian orang mudah tergoda mencari jalan instan memperoleh uang.

Bahkan, menurutnya, belakangan muncul candaan di media sosial yang mengajak orang pergi ke Gunung Kawi demi mencari kekayaan.

“Sekarang malah jadi bahan bercanda. Orang bilang lebih baik ke Gunung Kawi cari pesugihan. Menurut saya itu tidak baik karena bisa memengaruhi cara berpikir masyarakat, terutama yang sedang mengalami kesulitan ekonomi,” katanya.

Fajar mengingatkan bahwa setiap orang sebaiknya tidak mudah iri terhadap keberhasilan orang lain.

Ia meyakini rezeki setiap manusia sudah memiliki jalan masing-masing dan harus diperoleh melalui usaha yang halal.

“Jangan karena sedang susah lalu memilih jalan yang instan. Semua harta yang kita miliki nanti akan dimintai pertanggungjawaban. Lebih baik bersabar, bekerja dan berusaha daripada mencari kekayaan dengan cara yang bertentangan dengan keyakinan,” pungkasnya. (*)

 

Editor: Elly Amaliyah

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp