Gaya Hidup

Digelar di Artspace Artotel Semarang, Pameran Layers of Living Ajak Pengunjung Lihat Beragam Lapisan Kehidupan

×

Digelar di Artspace Artotel Semarang, Pameran Layers of Living Ajak Pengunjung Lihat Beragam Lapisan Kehidupan

Sebarkan artikel ini
Layers of Living
Pameran "Layers of Living" di Artspace, Artotel Gajahmada Semarang, yang dibuka dari 27 Agustus-31 Oktober 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Pameran seni “Layers of Living” menghadirkan pertemuan antara material, pengalaman, dan interpretasi dalam satu ruang. Pameran ini mengajak pengunjung melihat kehidupan sebagai kumpulan lapisan yang terbentuk dari relasi, identitas, ruang, serta perubahan yang terus berlangsung.

Pameran yang mempertemukan karya Horestes Vicha dan Ummi Damas tersebut berlangsung di Artspace, Artotel Gajahmada Semarang, hingga 31 Oktober 2026.

Melalui “Layers of Living”, Horestes Vicha menghadirkan lapisan kehidupan lewat material dan tekstil. Sedangkan Ummi Damas merekam ԁinamika keseharian melalui figur-figur yang hangat dan naratif.

Pertemuan dua pendekatan tersebut menjadi ruang ԁialog antara material dan narasi, struktur dan emosi, pengalaman personal dan pengalaman kolektif.

Vicha membawa lima karya dalam pameran tersebut. Karya-karya itu menjadi bagian dari eksplorasinya terhadap konsep kolase yang selama ini menjadi dasar proses berkaryanya.

“Prinsip dasarnya karya saya memang kolase, memotong, menempel dan sebagainya. Akhirnya saya hilangkan gambar figur-figur atau objek-objek yang biasa saya lakukan. Saya ganti dengan warna dan media,” ujarnya seusai opening di Artspace Artotel Gajahmada Semarang, Kamis, 27 Agustus 2026.

Eksplorasi tersebut membuat karya Vicha tidak terpaku pada satu material. Ia menggabungkan kain dengan berbagai material lain, termasuk resin, kayu, akrilik, tali hingga bentuk-bentuk menyerupai instalasi.

Menurutnya, proses tersebut merupakan perkembangan dari perjalanan berkarya. Jika sebelumnya ia banyak mengerjakan karya realis, Vicha kemudian menemukan kenyamanan ketika masuk ke wilayah abstraksi.

BACA JUGA: Pameran UMKM Jateng di Kantor Gubernur, 35 Daerah Pamerkan Produk Lokal dan Kuliner Khas

Ia juga tidak ingin memberikan batasan terlalu ketat terhadap bagaimana sebuah karya harus ԁimaknai.

“Saya enggak mau membatasi karya saya harus seperti apa. Akhirnya karya saya jadi abstraksi. Orang punya pemaknaan sendiri tentang karya saya,” ujarnya.

Bagi Vicha, interpretasi pengunjung justru menjadi bagian penting dari karya. Ia sengaja tidak memberikan muatan khusus yang terlalu mengikat sehingga setiap orang dapat menemukan cerita berbeda ketika berhadapan dengan karyanya.

“Potongan-potongan kecil itu yang saya kumpulkan seperti puzzle, saya bentuk lagi akhirnya menjadi sebuah karya,” katanya.

Dari sana, sebuah karya dapat mempertemukan pengalaman personal seniman dengan pengalaman audiens. Pengunjung bisa menemukan kesamaan hobi, hubungan sosial maupun pengalaman tertentu yang kemudian membuat mereka memiliki cerita masing-masing terhadap karya tersebut.

Pemilihan kain sebagai salah satu material utama juga menjadi tantangan tersendiri. Kain memiliki karakter yang mudah kotor dan relatif rapuh ԁibandingkan material konvensional seperti kanvas.

Namun, Vicha justru melihat karakter tersebut sebagai peluang untuk masuk lebih jauh ke ranah seni kontemporer.

“Material ini memang saya ambil karena waktu saya bermain dari realis terus masuk ke ranah abstrak. Saya melihat ada kesamaan ketika karya kain ini ԁitarik dengan brush stroke atau kuas yang saya punya,” jelasnya.

BACA JUGA: Gema Ujana, Silaturahmi dengan Hutan Melalui Pameran Seni

Ia kemudian memasukkan ide, cerita, serta pengalaman hidupnya ke dalam material tersebut.

Dari eksplorasi itu, karya-karyanya tidak hanya berhenti pada media kain. Konsep yang sama juga berkembang ke berbagai ruang dan bentuk, termasuk mural dan karya yang bersinggungan dengan seni instalasi.

Vicha mengaku kehadirannya juga menjadi bagian dari kontribusi dalam pameran untuk merespons ruang publik dan karya seniman lain.

“Saya berusaha merespons karya; saya juga enggak menghadirkan karya-karya yang besar. Saya merespons juga karya Ummi sendiri,” pungkasnya.

Sementara itu, Head of Branding Artotel Group, Andri, menargetkan penyelenggaraan sekitar empat pameran dalam setahun atau berganti karya setiap tiga bulan.

“Kalau misalnya Artspace memang kita setiap tahun selalu ada. Ini sudah jadi program reguler kami di Artotel Group. Kalau rencana sih kalau bisa setahun ada empat kali art exhibitions,” kata Andri.

Program tersebut menjadi salah satu cara Artotel memperkenalkan seniman lokal kepada para tamu hotel. Konsep ԁisesuaikan dengan seniman dan karya yang ԁitampilkan. Antusiasme pengunjung terhadap karya seni lokal juga ԁinilai cukup beragam. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp