“Kalau dinaikkan harganya, nanti penjual juga susah jual. Jadi kita akali di takaran,” katanya.
Terkait potensi untuk mengganti plastik ke daun pisang, Adib mengatakan bahwa hal itu tidak memungkinkan karena menambah biaya produksi.
“Enggak mungkin sih, karena kalau packing pakai daun itu berarti nambah orang produksinya. Jadi mau enggak mau tetap pakai plastik. Tapi ya disiasati mengurangi gramasi atau menaikkan harga itu,” jelasnya.
Adib menambahkan, meski biaya produksi meningkat, volume produksi tempe relatif stabil di kisaran 650 kilogram per hari. Hal ini terdukung oleh permintaan tetap dari pelanggan tetap serta suplai ke dapur-dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Produksi masih cenderung stabil, karena demand juga masih ada. Ada yang berkurang, tapi ada juga pelanggan baru,” ujarnya.
BACA JUGA: Awas Barang Palsu, Ini Cara Cek Keaslian Meterai Tempel untuk Dokumen Pendaftaran CPNS 2024
Namun demikian, ia tetap mengkhawatirkan potensi kenaikan biaya lain, seperti bahan bakar dan distribusi, yang dapat semakin membebani usaha.
Sebagai pelaku usaha, Adib berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga bahan pokok, terutama yang berkaitan langsung dengan produksi pangan.
“Harapannya pemerintah bisa menjaga harga bahan baku seperti kedelai dan plastik, supaya masyarakat tetap bisa beli dan ekonomi tetap berjalan,” pungkasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





