REMBANG, beritajateng.tv – Direktur Utama PT Wadah Karya Rembang Lie Kamadjaja mendirikan pabrik gula di Desa Kemadu, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.
Dalam sambutannya di acara silaturahmi dengan petani tebu bersama Haedar Nashir, Ketua DPP Muhammadiyah, mantan Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo, Bupati Rembang Abdul Hafidz, dan para petani tebu di Rembang dan Blora, Lie Kamadjaja berjanji akan mempertahankan pabrik gula di Rembang dengan nama PT Wadah Karya.
“Saya ini sudah dua kali membangun pabrik, di Kendal dan Blora. Tapi semua lepas dari saya dan diminta oleh pemerintah. Namun di Rembang ini saya berjanji akan saya pertahankan apapun alasannya nanti,” tegas Lie Kamdjaja.
BACA JUGA: Hadir Lagi di Blora, Presdir Pabrik Gula Rembang Ajak Kaum Milenial Tanam Tebu
Lie Kamadjaja akan bekerjasama dengan PP Muhammadiyah untuk mengadakan penelitian tentang tebu di Rembang, dan akan bersama-sama mensejahterakan petani tebu di Rembang dan Blora.
“Makanya saya menggandeng PP Muhammadiyah, karena saya yakin pak Haedar bisa membantu saya”, ujarnya.
Bupati Rembang Abdul Hafidz sangat mendukung berdirinya pabrik gula ini. Bahwa pabrik gula yang tertunda sekian lama ini sangat ditunggu- tunggu para petani tebu di Rembang dan Pemerintah Kabupaten Rembang serta petani tebu di Blora.
Gunakan teknologi ramah lingkungan
Menurutnya, pabrik gula ini nantinya menggunakan teknologi yang ramah lingkungan. Bahan bakarnya tidak menggunakan batu bara, sehingga tidak mengganggu lingkungan.
“Ini yang sangat menggembirakan, jangan sampai ada sebuah kegiatan produksi yang mengganggu lingkungan. Dan ini dipastikan tidak mengganggu lingkungan karena bahan bakarnya tidak menggunakan batu bara,” kata Abdul Hafidz.
Abdul menambahkan bahwa penyebab lamanya pembangunan pabrik gula di Rembang karena ada permasalahan hukum yang Lie Kamadjaja hadapi di Blora.
Namun Lie Kamadjaja saat ini sudah memiliki putusan inkrah dari pengadilan, perkara pun sudah ia menangkan.
“Saya yakin, karena sudah menggandeng PP Muhammadiyah, sudah ada MoU mengadakan penelitian tentang Tebu di Rembang, dan ada pembiayaan, mudahan berjalan baik,” Imbuhnya.
Sementara Haedar Nashir, mengatakan Muhammadiyah prihatin dengan melihat petani tebu yang nasibnya tidak berubah. Serta pemerintah yang masih impor gula, dan harga tebu yang rendah di petani.
“Kami hadir di sini, untuk bekerjasama dengan kelompok – kelompok tani tebu, dan pengusaha seperti pak Kamadjaja. Mengangkat martabat kesejahteraan petani,” ungkap Haedar.
Kalau ingin swasembada dan kedaulatan pangan di segala bidang pertanian, kata Haedar, pemerintah harus merubah sistem dari aspek hulu ke hilir.
“Termasuk bagaimana beralih dari impor ke pemberdayaan potensi domestik kita yang akhirnya bisa ekspor. Kenapa tidak bisa?” kata Haedar.
Haedar yakin kalau pemerintah memiliki politic will yang kuat, masyarakat petani termasuk Muhammadiyah, para pengusaha juga dapat bergerak karena ada kepastian regulasi.
“Kami juga berharap para pengusaha di berbagai bidang bukan hanya pertanian. Kami ajak untuk mengembangkan tanggung jawab sosial kebangsaan yang tinggi. Agar kita bisa berbagi dengan rakyat,” katanya. (*)
Editor: Farah Nazila





