SEMARANG, beritajateng.tv – Ambisi besar Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk kembali mengukir sejarah sebagai penyelenggara Pekan Olahraga Nasional (PON) harus terkubur.
Rencana pencalonan bersama untuk menjadi Tuan Rumah PON 2032 resmi batal terlaksana setelah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memutuskan mundur dari skema kerja sama tersebut.
Kepastian pahit ini meluncur langsung dari Ketua Umum KONI Jawa Tengah, Sujarwanto Dwiatmoko, tepat setelah pembukaan Rapat Kerja Provinsi (Rakerprov) di Hotel Grasia Semarang, Sabtu, 4 April 2026.
BACA JUGA: Buka Rakerprov KONI Jateng, Wagub Taj Yasin: Porprov Jadi Pintu Menuju PON 2028
Mundurnya DIY menjadi faktor penentu kegagalan ini, mengingat pola penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional masa kini cenderung menggunakan format gabungan dua provinsi seperti yang terjadi pada Aceh-Sumut maupun NTT-NTB.
“Kami sebenarnya sangat ingin menjadi Tuan Rumah PON 2032. Keinginan itu juga sudah tersampaikan oleh Bapak Gubernur, sehingga kami mulai menyiapkan berbagai rancangan strategis,” ungkap Sujarwanto.
Namun, dinamika pembahasan pada internal DIY menghasilkan keputusan bahwa provinsi tetangga tersebut belum siap untuk maju bersama dalam pencalonan kali ini.
Faktor Gagalnya Pencalonan Tuan Rumah PON 2032 Bagi Jateng
Padahal, Jawa Tengah sangat mendambakan momentum ini sebagai ajang nostalgia sekaligus pembuktian infrastruktur olahraga mereka.
Jawa Tengah tercatat sebagai lokasi penyelenggaraan PON edisi pertama, namun hingga kini kesempatan kedua belum kunjung menghampiri bumi pertiwi.
Sayangnya, ketergantungan pada dukungan provinsi mitra membuat langkah Semarang dan sekitarnya terhenti sebelum sempat mendaftar ke KONI Pusat.
Selain mundurnya DIY, kendala administratif berupa percepatan jadwal pendaftaran turut memperkeruh suasana. KONI Pusat secara mendadak memajukan batas akhir pendaftaran yang semula bulan Mei 2026 menjadi tanggal 1 April 2026 kemarin.
BACA JUGA: Mohammad Saleh Optimistis Jateng Tembus 3 Besar di PON 2028: Perjuangkan Target 150 Medali Emas
Perubahan jadwal yang sangat mepet ini membuat tim persiapan kehilangan waktu krusial untuk melakukan lobi lanjutan atau mencari mitra provinsi alternatif lainnya.





