“Romo Kyai Murodi adalah figur ulama tarekat. Santrinya ada di mana-mana. Kami hadir untuk mengawal beliau, karena di sini ada pusat pendidikan agama. Apakah tega jika tempat belajar anak-anak di runtuhkan?” tegasnya.
Menurut Gus Hafid, eksekusi yang memaksa ulama untuk meninggalkan kediamannya bisa memicu keresahan lebih luas. Ia menilai jika eksekusi ini berlanjut, dampaknya bisa merambah pada kiai-kiai lain jika ada kasus serupa.
“Maka, kami minta ada solusi kekeluargaan. Jangan pertontonkan konflik keluarga di hadapan masyarakat luas,” katanya.
Sejumlah santri dan warga pun ikut berkumpul di lokasi eksekusi sebagai bentuk solidaritas. Mereka berharap, pengadilan bersama pihak terkait dapat mencari jalan tengah yang tidak merugikan masyarakat, sekaligus tetap menghormati putusan hukum yang ada. (*)
Editor: Elly Amaliyah




