Jateng

Ekspor Jateng ke Timur Tengah Terhambat, Ongkos Kirim Naik Drastis

×

Ekspor Jateng ke Timur Tengah Terhambat, Ongkos Kirim Naik Drastis

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi ekspor Jateng. (Pexels/Pixabay)
Ilustrasi ekspor Jateng. (Pexels/Pixabay)

SEMARANG, beritajateng.tv – Konflik yang berkecamuk di Timur Tengah membawa dampak serius bagi aktivitas ekspor pelaku usaha di Jawa Tengah (Jateng). Lonjakan biaya logistik dan risiko keamanan membuat sejumlah pengusaha memilih menunda pengiriman produk ke kawasan tersebut.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng, Frans Kongi, mengatakan kondisi geopolitik di Timur Tengah telah mengganggu arus perdagangan, khususnya untuk komoditas tekstil dan alas kaki.

“Ekspor kita ke Timur Tengah sudah menurun sekali. Tidak ada kapal mau berangkat ke sana,” kata Frans saat dikonfirmasi Senin, 13 April 2026.

Ia menjelaskan, meskipun pengiriman masih memungkinkan dilakukan, pelaku usaha harus menghadapi beban biaya angkut yang jauh lebih tinggi dari biasanya. Kenaikan tersebut bahkan bisa mencapai beberapa kali lipat.

“Tapi masalahnya, kita itu sudah rugi. Misalnya kita biasa bayar satu rupiah, ini bisa antara tiga sampai lima rupiah,” lanjutnya.

BACA JUGA: Kadin Jateng Nilai Aturan Kayu Uni Eropa Tak Hambat Ekspor Mebel: Agar Tak Asal Tebang Pohon

Kondisi tersebut membuat banyak pengusaha mengambil langkah hati-hati dengan menangguhkan ekspor sementara waktu. Sektor yang paling terdampak antara lain industri garmen dan alas kaki, terutama yang memproduksi busana Muslim untuk pasar Timur Tengah.

“Karena kalau biaya tinggi, kita juga tak bisa tanggung,” keluhnya.

Frans pun berharap pemerintah dapat mengambil peran aktif melalui jalur diplomasi untuk meredakan konflik di kawasan tersebut. Selain itu, ia juga mendorong adanya dukungan berupa insentif pajak bagi pelaku usaha yang terdampak situasi ini.

Sementara itu, sebagai konsumen kedelai impor, para pengrajin tahu juga mengalami nasib serupa. Terhimpit biaya kenaikan kedelai impor sejak awal tahun ditambah kenaikan plastik untuk kemasan.

Joko Wiyatno (53), salah satu pengrajin tahu di Kota Semarang terpaksa mengurangi takaran produk karena tidak mampu menaikkan harga jual di tengah persaingan pasar.

Menurutnya, sebagian besar pengrajin tahu mengandalkan kedelai impor karena pasokan kedelai lokal belum mampu memenuhi kebutuhan produksi. Meski stok kedelai masih tersedia di pasaran, kenaikan harga membuat biaya produksi melonjak tajam. Ia memilih tidak menaikkan harga jual karena khawatir kehilangan pelanggan.

“Kita mengecilkan ukuran. Kalau harga dinaikkan sendiri tidak bisa, harus bareng-bareng. Jadi sementara ini kita kurangi takaran,” katanya.

BACA JUGA: Larangan Impor Barang Bekas, Pelaku Usaha Thrifting Semarang: Penjualan Turun, Masih Bisa Buat Makan

Selain kedelai, kenaikan juga terjadi pada sejumlah bahan baku lain seperti minyak goreng, plastik, hingga kayu bakar. Harga minyak goreng, misalnya, naik dari sekitar Rp16.000 menjadi Rp20.500 per kilogram.

Sementara itu, harga plastik bahkan mengalami kenaikan signifikan. Untuk plastik bening, kenaikan bisa mencapai 100 persen, sedangkan plastik kantong naik sekitar 25 hingga 30 persen. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp