SEMARANG, beritajateng.tv – Konflik yang berkecamuk di Timur Tengah membawa dampak serius bagi aktivitas ekspor pelaku usaha di Jawa Tengah (Jateng). Lonjakan biaya logistik dan risiko keamanan membuat sejumlah pengusaha memilih menunda pengiriman produk ke kawasan tersebut.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng, Frans Kongi, mengatakan kondisi geopolitik di Timur Tengah telah mengganggu arus perdagangan, khususnya untuk komoditas tekstil dan alas kaki.
“Ekspor kita ke Timur Tengah sudah menurun sekali. Tidak ada kapal mau berangkat ke sana,” kata Frans saat dikonfirmasi Senin, 13 April 2026.
Ia menjelaskan, meskipun pengiriman masih memungkinkan dilakukan, pelaku usaha harus menghadapi beban biaya angkut yang jauh lebih tinggi dari biasanya. Kenaikan tersebut bahkan bisa mencapai beberapa kali lipat.
“Tapi masalahnya, kita itu sudah rugi. Misalnya kita biasa bayar satu rupiah, ini bisa antara tiga sampai lima rupiah,” lanjutnya.
BACA JUGA: Kadin Jateng Nilai Aturan Kayu Uni Eropa Tak Hambat Ekspor Mebel: Agar Tak Asal Tebang Pohon
Kondisi tersebut membuat banyak pengusaha mengambil langkah hati-hati dengan menangguhkan ekspor sementara waktu. Sektor yang paling terdampak antara lain industri garmen dan alas kaki, terutama yang memproduksi busana Muslim untuk pasar Timur Tengah.
“Karena kalau biaya tinggi, kita juga tak bisa tanggung,” keluhnya.
Frans pun berharap pemerintah dapat mengambil peran aktif melalui jalur diplomasi untuk meredakan konflik di kawasan tersebut. Selain itu, ia juga mendorong adanya dukungan berupa insentif pajak bagi pelaku usaha yang terdampak situasi ini.
Sementara itu, sebagai konsumen kedelai impor, para pengrajin tahu juga mengalami nasib serupa. Terhimpit biaya kenaikan kedelai impor sejak awal tahun ditambah kenaikan plastik untuk kemasan.
Joko Wiyatno (53), salah satu pengrajin tahu di Kota Semarang terpaksa mengurangi takaran produk karena tidak mampu menaikkan harga jual di tengah persaingan pasar.





