SEMARANG, beritajateng.tv – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah menegaskan tidak ada aktivitas pertambangan di kawasan lindung Gunung Slamet.
Seluruh kegiatan tambang yang berizin di sekitar Gunung Slamet dipastikan berada di luar zona lindung dengan jarak yang terukur.
Kepala Dinas ESDM Jawa Tengah Agus Sugiharto menuturkan, narasi yang menyebut adanya tambang di lereng Gunung Slamet tidak tepat jika dilihat dari aspek perizinan dan lokasi.
“Bahwa yang saat ini viral ada narasi katanya penambangan di Lereng Gunung Slamet sebetulnya hal itu tidak tepat. Karena posisi pertambangan yang ada di wilayah seputaran Gunung Slamet itu yang berizin seluruhnya ada lima dan semuanya di luar kawasan zona lindung Slamet,” ujar Agus saat beritajateng.tv jumpai di UMKM Centre, Kota Semarang, Senin, 15 Desember 2025 sore.
BACA JUGA: Dinas ESDM Jateng Pastikan Tambang di Gunung Slamet Tak Akan Bikin Bencana Seperti di Sumatera: Skalanya Kecil
Ia memaparkan, dari lima titik tambang berizin tersebut, dua di antaranya saat ini tidak aktif.
“Yang pertama CV Smart Indo Cipta itu berjarak sekitar 19,5 kilometer dan saat ini tidak aktif. Kemudian PT Saka Bumi Gandakapa itu berjarak 9,8 kilometer juga tidak aktif,” jelasnya.
Sementara itu, kata Agus, satu perusahaan masih beroperasi. Kemudian dua lainnya berada dalam pengawasan atau penghentian sementara.
“CV Krakatau Indah itu dari kawasan hutan Slamet berjarak sekitar 18,8 kilometer itu aktif. Kemudian PT Keluarga Sejahtera Bumindo di Desa Gendatapa Kecamatan Sumbang berjarak sekitar 9,8 kilometer aktif dan saat ini dalam pengawasan teknis kami,” katanya.
Adapun tambang milik PT Dinar Batu Agung (DBA), yang belakangan ramai sorotan publik, disebut telah dihentikan sementara.
“PT Dinar Batu Agung itu berjarak 12,5 kilometer dari kawasan hutan Gunung Slamet dan statusnya kami hentikan sementara sampai ada perbaikan teknis dan lingkungan,” ujar Agus.
Agus menambahkan, penghentian sementara tersebut lintasinstansi awasi.
“Di awasi oleh gabungan tiga institusi dari Polresta Banyumas, dari Kabupaten Banyumas, dan dari Dinas ESDM Jawa Tengah,” tegasnya.
ESDM jelaskan foto Google Earth viral berasal dari proyek panas bumi lama
Dalam kesempatan itu, Agus juga meluruskan foto Google Earth yang viral di media sosial dan di kaitkan dengan dugaan tambang di Gunung Slamet. Ia memastikan gambar tersebut merupakan dokumentasi lama proyek panas bumi.
“Kalau yang viral foto Google Earth itu sebetulnya potongan foto tahun 2017-2018. Di mana pada saat itu ada kegiatan eksplorasi atau pengembangan panas bumi oleh PT Sejahtera Alam Energi,” jelasnya.
Menurutnya, perusahaan tersebut telah melakukan pemboran di tiga titik, namun tidak menemukan potensi panas bumi yang sesuai harapan.
“Sudah melakukan pemboran di tiga titik, namun ketiganya tidak menemukan potensi steam panas bumi yang sesuai, sehingga pada tahun 2023 mereka menghentikan kegiatannya,” ujar Agus.
Ia menegaskan, lokasi tersebut telah direhabilitasi di bawah pengawasan penegakan hukum kehutanan.
“Sudah ada pemberlakuan rehabilitasi di bawah pengawasan Gakkum Kementerian Kehutanan. Pada tanggal 11 Desember 2025 kami naik bersama Gakkum dan hasilnya teramati sudah tidak ada lagi bukaan, semuanya sudah penutupan lahan atau reboisasi kembali,” paparnya.
Soal bencana Sumatera, ESDM minta masyarakat waspada tapi tak berlebihan
Menanggapi kekhawatiran publik yang mengaitkan aktivitas tambang dengan bencana banjir bandang dan longsor di Sumatera, Agus meminta masyarakat tetap waspada namun tidak berlebihan.
“Euforia bencana yang terjadi di wilayah Sumatera ini banyak narasi yang menyampaikan di sebabkan oleh kegiatan pertambangan, sehingga mempengaruhi masyarakat kita di Jawa Tengah,” ujarnya.
Ia menyinggung kejadian longsor di Banjarnegara dan Cilacap yang menurutnya bukan terpicu oleh aktivitas tambang.
“Di Jawa Tengah sendiri ada longsor kemarin yang cukup besar di Banjarnegara dan Cilacap, tapi itu bukan kegiatan pertambangan, melainkan kondisi curah hujan dan morfologi yang cukup terjal,” kata Agus.
Menurutnya, kewaspadaan tetap penting, namun tidak boleh berubah menjadi ketakutan berlebihan. Ia mengibaratkan kewaspadaan seperti berkendara di jalan raya.
“Kekhawatiran itu perlu supaya kita waspada, tapi jangan sampai berlebihan. Kalau berlebihan jadinya ketakutan. Khawatir itu perlu, supaya kita cari jalan yang aman. Tapi kalau takut berlebihan ya tidak ke mana-mana,” katanya.
BACA JUGA: ESDM Jateng Pastikan Tambang Tanah Urug di Batealit Jepara Ilegal: Masuk Lahan Lindung
Agus menegaskan ESDM terbuka terhadap laporan masyarakat terkait aktivitas tambang ilegal.
“Kalau bisa yang ilegal-ilegal itu dilaporkan dan dihentikan. Karena kegiatan ilegal itu menjadi tanggung jawab kita semua,” pungkasnya. (*)
Editor: Farah Nazila





