SEMARANG, beritajateng.tv – Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang mencatat tren penanganan nonkebakaran dan evakuasi terus meningkat sepanjang Januari hingga Juni 2026.
Selama enam bulan terakhir, petugas Damkar Semarang telah menangani sekitar 1.000 laporan penyelamatan, dengan evakuasi ular dan biawak yang masuk ke permukiman warga menjadi kasus yang paling banyak.
Kepala Bidang Operasional dan Penyelamatan Damkar Kota Semarang, Tantri Pradono, mengatakan tingginya permintaan bantuan menunjukkan peran Damkar kini tidak hanya sebatas memadamkan kebakaran.
“Kasus penyelamatan atau evakuasi sudah mencapai sekitar 1.000 laporan. Mulai dari sarang tawon, ular, biawak, kucing, hingga membantu mengambil kunci yang jatuh ke selokan,” ujar Tantri.
Ia menjelaskan, berdasarkan regulasi, tugas penyelamatan Damkar sebenarnya hanya mencakup penanganan ular dan tawon yang membahayakan masyarakat. Namun, kebutuhan warga terus berkembang sehingga jenis laporan yang diterima semakin beragam.
BACA JUGA: Saat Kebakaran Meningkat, Lima Mobil Damkar Semarang Justru Dikandangkan Imbas Efisiensi Anggaran
“Sesuai aturan sebenarnya kami menangani tawon dan ular. Tetapi sekarang masyarakat juga meminta bantuan untuk evakuasi kucing, membuka pintu toko yang terkunci, mengambil kunci di selokan, bahkan mengambil drone yang tersangkut,” katanya.
Di tengah meningkatnya jumlah laporan, Damkar Kota Semarang justru menghadapi keterbatasan anggaran operasional.
Tantri mengungkapkan alokasi anggaran untuk kegiatan pemadaman maupun nonpemadaman pada 2026 telah habis memasuki Juli.
“Anggaran operasional tahun ini sudah habis. Anggaran tersebut digunakan untuk kebutuhan makan dan minum petugas setelah bertugas di lapangan. Meski begitu, semua laporan masyarakat tetap kami layani tanpa memilih-milih,” tegasnya.
Selain menangani penyelamatan satwa, Damkar juga meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau. Hingga Juli 2026, tercatat lebih dari 30 kejadian kebakaran ilalang berhasil petugas tangani.
Menurut Tantri, sebagian besar kebakaran lahan di picu oleh kelalaian manusia. Seperti membuang puntung rokok sembarangan atau membakar sampah di lahan kosong.
“Selama Juni hingga Juli kami cukup banyak menerima laporan kebakaran ilalang. Dugaan penyebabnya antara lain puntung rokok dan aktivitas pembakaran sampah,” ungkapnya.
Sebagai langkah pencegahan, Damkar telah mengirimkan surat edaran kepada seluruh camat untuk meneruskan kepada lurah di wilayah masing-masing.
Isinya mengimbau masyarakat agar tidak membakar sampah maupun membuang puntung rokok sembarangan.
“Kami sudah menyampaikan surat edaran kepada camat dan lurah. Harapannya masyarakat lebih berhati-hati karena tindakan kecil seperti membakar sampah atau membuang puntung rokok bisa memicu kebakaran ilalang saat musim kemarau,” pungkas Tantri. (*)





