Adapun tantangan yang ia hadapi sebagai sutradara yakni menghidupkan sosok Suzanna yang menjadi legend. Baginya, film Suzanna tak hanya soal bagaimana membuat tampilan Luna Maya semirip mungkin dengan Suzanna. Sehingga, film Suzanna tahun ini menurutnya lebih kompleks dari sebelumnya.
“Nggak cuma tampilan kalau sekarang, tapi lebih dari itu. Bagaimana struktur ceritanya, bagaimana karakternya, bagaimana hal yang belum kita munculkan pertama itu muncul semuanya. Kalau Luna tadi bilang jauh lebih kompleks ya iya bener. Alurnya berlayer-layer, nggak cuma tampilan aja. Plotnya juga banyak,” tandas Guntur.
BACA JUGA: Rekomendasi Film Horor Bioskop Indonesia, Ceritanya Seram dan Beragam, Bikin Merinding!
Membuat karya klasik memang menjadi tantangan untuk setiap film maker, tak terkecuali Guntur. Bahkan, ia sempat ditantang oleh produser untuk men-direct ‘Suzanna: Malam Jumat Kliwon’ dengan seminim mungkin teknologi computerized atau yang ia sebut CGI.
“Kalau ada kepala pecah ya kita pecahin beneran. Terus bagaimana saat kena cambuk darahnya muncrat itu, semua harus terlihat realistis. Kita me-recall itu, membuat bagaimana adegan adegan itu kelihatan organik tanpa bantuan CGI,” ucapnya.
Luna Maya ungkap kesulitan bawakan karakter Suzanna
Sementara itu, Luna Maya sebagai pemeran utama menegaskan film ‘Suzanna: Malam Jumat Kliwon’ bukanlah autobiografi. Ia menuturkan, film ini bak sebuah universe besar yang setiap cerita pada masing-masing film berdiri sendiri.
Selama memerankan Suzanna, Luna mengaku olah vokal menjadi yang cukup sulit baginya. Perbedaan gaya bicara yang sangat jelas di tahun 80-an menjadi tantangan tersendiri.
“Susah banget, karena memang lafalan dan pengucapan tahun 80-an atau Suzanna sendiri itu khas banget cara berdialognya. Pemenggalan komanya, dimana ia harus ngomong titik, dimana harus ambil nafasnya. Kalau dulu koma titik itu ada jelas gitu,” terang Luna.
BACA JUGA: Film Horor Baru Tayang di Bioskop, Begini Sinopsis The Boogeyman, Awas Ada Makhluk Seram!





