JAKARTA, beritajateng.tv – Produsen kendaraan niaga asal Tiongkok, Forland, resmi memasuki pasar Indonesia di tengah fase penting perkembangan kendaraan niaga listrik atau Commercial Electric Vehicle (EV). Perusahaan melihat momentum ini sebagai titik balik pasar, ketika struktur industri mulai berubah dan peluang kompetitif baru terbuka.
Saat ini, penetrasi kendaraan listrik penumpang di Indonesia sudah mencapai angka dua digit. Namun, adopsi kendaraan niaga listrik secara nasional masih berada di bawah 1 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar masih sangat awal, tetapi dinamika permintaan mulai terbentuk.
Melihat peluang itu, Forland masuk ke Indonesia melalui kerja sama distribusi dengan PT Tangguh Utama Sejahtera (TUS).
“Jika kendaraan listrik penumpang sudah mendekati 15 persen penetrasi, kendaraan niaga listrik bahkan belum mencapai 1 persen. Ini bukan sekadar peluang bisnis, ini adalah kesempatan strategis untuk membentuk pasar sejak awal,” ujar Presiden Direktur TUS, Darwin JinHong Lin, dalam keterangan tertulis, Kamis 5 Maret 2026.
Pertumbuhan Logistik dan E-Commerce Dorong Permintaan
Permintaan kendaraan niaga di Indonesia sangat dipengaruhi ekspansi sektor logistik dan perdagangan digital. Sektor logistik nasional perkiraannya terus berkembang dengan pertumbuhan tahunan rata-rata sekitar 10–12 persen, didorong pembangunan infrastruktur, urbanisasi, serta peningkatan aktivitas e-commerce.
Berdasarkan laporan riset industri, nilai pasar logistik Indonesia pada 2024 diperkirakan mencapai sekitar Rp5.800 triliun atau lebih dari 20 persen produk domestik bruto (PDB) nasional. Angka tersebut menunjukkan peran strategis sektor logistik sebagai penggerak utama ekonomi domestik.
BACA JUGA: Dorong Akselerasi Pembiayaan Kredit Kendaraan, Bank Jateng Teken Kerja Sama dengan 14 Dealer Ternama
Di sisi lain, pasar logistik e-commerce Indonesia juga diproyeksikan tumbuh signifikan. Nilai pasar logistik e-commerce perkiraannya mencapai sekitar USD5,7 miliar pada 2026 dengan laju pertumbuhan tahunan sekitar 8,4 persen dalam beberapa tahun ke depan.
Pertumbuhan tersebut mencerminkan meningkatnya volume pengiriman barang, baik untuk transaksi business-to-consumer (B2C) maupun business-to-business (B2B). Distribusi last-mile kini menjadi aspek krusial dalam strategi logistik, khususnya di kota-kota besar, seiring meningkatnya ekspektasi konsumen terhadap layanan yang lebih cepat dan andal.
Sejalan dengan Agenda Elektrifikasi Nasional
Masuknya Forland juga sejalan dengan agenda elektrifikasi kendaraan yang pemerintah Indonesia dorong sebagai bagian dari komitmen menuju net zero emission. Kendaraan niaga memiliki peran penting dalam distribusi barang, namun juga berkontribusi besar terhadap konsumsi bahan bakar dan emisi gas rumah kaca.
Karena itu, elektrifikasi kendaraan niaga dipandang mampu menciptakan keseimbangan antara efisiensi operasional dan target lingkungan jangka panjang.
Kebijakan insentif kendaraan listrik, ditambah investasi pada infrastruktur logistik dan distribusi, semakin memperkuat daya tarik Indonesia sebagai lokasi investasi kendaraan niaga listrik.
Indonesia Berpotensi Jadi Hub Commercial EV Asia Tenggara
Secara geografis dan demografis, Indonesia merupakan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan permintaan domestik yang kuat. Konektivitas maritim yang luas juga membuka peluang menjadikan Indonesia sebagai pusat logistik regional.
Masuknya Forland pada tahap awal pertumbuhan pasar kendaraan niaga listrik memberi perusahaan keunggulan dalam membangun jaringan distribusi, layanan purnajual, serta memperkuat persepsi merek sebelum kompetisi semakin ketat.
General Manager Forland Overseas Business Department, Dong Yongsheng, menilai Indonesia sebagai pasar strategis bagi pengembangan kendaraan niaga modern di kawasan Asia Tenggara.
“Indonesia memiliki fundamental ekonomi yang kuat dan pertumbuhan logistik yang dinamis. Kami melihat Indonesia sebagai pasar kunci di Asia Tenggara untuk pengembangan kendaraan niaga modern dan solusi yang berkelanjutan,” katanya.
Raksasa Global Mulai Bangun Produksi Lokal
Secara global, Forland telah memproduksi lebih dari 6,8 juta unit kendaraan yang tersebar di 18 negara. Hal ini menempatkan perusahaan sebagai salah satu pemain besar dalam industri kendaraan niaga internasional.
Kemitraan dengan PT Tangguh Utama Sejahtera menjadi fondasi strategis untuk membangun jaringan distribusi dan layanan di Indonesia, guna menjawab kebutuhan armada komersial nasional, baik untuk operasional konvensional maupun kendaraan niaga listrik di masa depan.
Selain itu, perusahaan juga berencana memulai produksi lokal dengan target tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mencapai 40 persen. Hal itu melalui fasilitas produksi di Jawa Barat.
BACA JUGA: Warga Jateng Geram Pajak Kendaraan Naik Imbas Opsen, Pengamat: Itu Faktor Psikologis
Dalam peluncuran mereknya di Indonesia, Forland juga memperkenalkan kampanye bertajuk “The Unseen Giant”. Kampanye tersebut menggambarkan kekuatan global perusahaan yang selama ini mungkin belum banyak terlihat di Indonesia. Tetapi telah memberikan dampak nyata di berbagai negara.
Kini, Forland menargetkan untuk mengambil posisi strategis di pasar kendaraan niaga Indonesia. Hal itu seiring meningkatnya kurva adopsi kendaraan listrik di sektor komersial. (*)
Editor: Farah Nazila





