Gaya Hidup

Gabut Garap Skripsi, Mahasiswi Unnes Buka Jasa Antar Jemput, Sehari Bisa Cuan Rp400 Ribu!

×

Gabut Garap Skripsi, Mahasiswi Unnes Buka Jasa Antar Jemput, Sehari Bisa Cuan Rp400 Ribu!

Sebarkan artikel ini
Antar Jemput
Penyedia jasa antar jemput mahasiswa Unnes, Dini Nur Kholisah, saat hendak mengantarkan seorang pelanggan. (Fadia Haris Nur Salsabila/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Dini Nur Kholisah, seorang mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) seperti tak mengenal lelah. Ya, Dini selama ini kuliah sembari membuka jasa antar jemput (anjem) dan jasa titip (jastip).

Tiap harinya, ia selalu “ready” atau siap sedia. Berbekal ponsel dan motor matic-nya, Dini siap menerima segala pesanan antar jemput ataupun jastip selama 24 jam penuh.

Misalnya pagi itu, sejak pukul 4 dini hari, Dini harus mengantarkan seorang pelanggannya ke Stasiun Poncol Semarang. Jarak antara Unnes dan Stasiun Poncol tentu tidak dekat, namun Dini tak mau mengecewakan pelanggannya.

“Ready 24 jam selama ada yang booking. Pernah nganter jam 1-2 dini hari. Pokoknya enggak ada batas,” ceritanya kepada beritajateng.tv, belum lama ini.

BACA JUGA: Cara Cepat Selesaikan Skripsi Kuliah, Pasti Auto Lulus!

Lantaran “buka 24 jam”, jam kerja Dini jadi tak menentu. Kadang pagi, juga malam hari. Ia bahkan pernah tak tidur sama sekali seharian penuh. Saking banyaknya pesanan.

Beruntung, studi mahasiswa Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran (FK) Unnes itu tinggal sedikit lagi. Bisa dibilang, aktivitas antar jemput ia lakukan untuk mengisi kekosongan waktu kala menyelesaikan skripsi.

“Rasanya jelas capek, tapi senengnya itu ketika antar jemput bisa sharing sama pelanggan, dapet temen, sama tentunya ngebantu mereka juga,” imbuhnya.

Jasa antar jemput patok tarif sesuai jarak dan medan, pernah raup Rp6 juta sebulan

Melakoni jasa antar jemput sejak tahun 2022 menjadikan Dini paham betul seluk-beluk jalanan di sekitar Unnes. Pun, daerah-daerah tujuan favorit mahasiswa Unnes.

Kini, untuk mematok tarif pun Dini tidak lagi berdasarkan berapa jauh kilometernya. Akan tetapi, sesuai sulit tidaknya medan yang akan dilewati. Ia bahkan sudah hapal di luar kepala tarif dan tujuannya.

“Misal sekitaran Unnes cuma Rp5 ribu, ke Stasiun Poncol Rp20 ribu, Stasiun Tawang Rp25 ribu, sama Simpang Lima Rp21 ribu,” kata Dini.

Dini mengaku jika ia sebenarnya menganggap antar jemput bukan sebagai pekerjaan. Melainkan, sebagai aktivitas di tengah jadwal skripsi yang tak menentu.

BACA JUGA: Tidak Lagi Wajibkan Skripsi, Mahasiswa SCU Bisa Lulus dengan Alternatif Tugas Akhir

Meski begitu, berkat kegiatan “gabut”nya itu, penghasilan Dini dari jasa antar jemput tak main-main. Dalam sebulan, ia bisa mengantongi uang sekitar Rp3 sampai 4 juta. Bahkan, ia pernah mendapat Rp6 juta sebulannya.

“Paling ramai itu ketika arus balik mahasiswa Unnes. Seharian saya bisa bolak-balik ke Stasiun Poncol sebanyak 10 kali. Sehari aja bisa dapet Rp400 ribu. Paling banyak sebulan Rp6 juta,” ucapnya malu-malu.

Kini, jasa antar jemput di Unnes semakin marak. Meski begitu, Dini mengaku tak begitu khawatir. Sebab, ia punya cara tersendiri dalam mempromosikan jasanya.

Ia memanfaatkan media sosial X, khususnya autobase mahasiswa Unnes. Pun, rata-rata kini pelanggannya merupakan pelanggan tetap yang melakukan repeat order.

“Sekarang udah ada ratusan mahasiswa yang membuka anjem dan persaingan semakin ketat. Tapi enggak apa-apa karena kebanyakan customer aku repeat order,” bebernya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp